CapresPolitik

LSI tegaskan tiga capres yang masuk pilpres

LSI tegaskan tiga capres yang masuk pilpres

Kampanye Negatif dan Pemenang Pemilu Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Adjie Alfaraby (kanan) didampingi moderator Rully Akbar (kiri) menyampaikan hasil survei kampanye negatif dan prediksi hasil pemilu legislatif 2014 di Jakarta, Rabu (2/4). (ANTARA FOTO/Andika Wahyu) ()

Hanya akan ada tiga capres, yakni Jokowi, Aburizal Bakrie, yang ketiga bisa Prabowo atau Wiranto atau pemenang konvensi Partai Demokrat,”

Jakarta  РHasil survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan bahwa hanya akan ada tiga capres yang maju dalam pertarungan Pilpres 2014.
“Hanya akan ada tiga capres, yakni Jokowi, Aburizal Bakrie, yang ketiga bisa Prabowo atau Wiranto atau pemenang konvensi Partai Demokrat,” kata peneliti LSI Adjie Alfaraby dalam konferensi pers bertajuk Kampanye Negatif dan Prediksi Hasil Pileg 2014 di Jakarta, Rabu.
Hal tersebut didasarkan pada tingkat elektabilitas Partai PDI-P dan Golkar yang pada survei bulan Maret 2014 berada di posisi teratas yakni masing-masing 21,1 persen dan 21,9 persen.
Perolehan elektabilitas kedua parpol tersebut berada jauh di atas parpol-parpol lainnya. Pada posisi ketiga diduduki oleh Partai Gerindra yang hanya meraih suara sebesar 11,1 persen, di posisi keempat Partai Demokrat sebesar 7,6 persen. Sementara PKB 5,9 persen, PKS 5,2 persen, Partai Hanura 4,5 persen, Partai Nasdem 4,3 persen, PPP 3,4 persen, PAN 3 persen, PBB 0,9 persen dan PKPI 0,5 persen.
Golkar dan PDI-P, menurut dia, kokoh di peringkat teratas karena kedua parpol ini memiliki struktur partai yang kuat.
Menurut dia, Golkar dengan struktur partai yang kuat dan merata, kemampuan keuangan yang memadai dan memori kolektif peran pembangunan Golkar pada masa Orde Baru.
“Sementara kalau PDI-P punya kelebihan struktur partai yang solid dan militan. Lalu partai ini juga konsisten sebagai partai oposisi. Citra positif kader-kadernya yang jadi kepala daerah juga menguntungkan PDI-P,” katanya.
Adjie menambahkan, 2014 merupakan peralihan koalisi pemerintahan dari koalisi Demokrat – Golkar ke koalisi PDI-P – Golkar. “Siapapun yang menang antara PDI-P dan Golkar, pemerintah 2014 — 2019 akan lebih kuat jika kedua partai berkoalisi dibandingkan bila mereka saling beroposisi,” katanya.(Ant/IP)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close