Politik

LSIN: ANIES BASWEDAN, CAPRES PILIHAN PUBLIK DARI NON PARPOL

anis baswedanHasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN) menunjukkan bahwa publik merekomendasikan Anies Baswedan menjadi Capres dari Non Parpol. Eletabilitas Anies Baswedan unggul atas deretan tokoh nasional sekelas Dahlan Iskan, Mahfud MD, Din Syamsudin, Said Aqil Siradj, dan Rhoma Irama.

Survei nasional LSIN Capres Non Parpol dilakukan rentang waktu 1-15 Oktober 2013, melibatkan 1.500 responden dari 34 Provinsi di Indonesia di tambah beberapa responden dari luar negeri dengan maksud untuk menjajaki aspirasi publik terhadap munculnya pemimpin nasional dari non-Parpol.

Direktur eksekutif LSIN, Yasin Mohammad, mengatakan bahwa ketika responden diajukan pertanyaan siapakah Capres yang layak menurut anda dari non-Parpol?. Responden mengajukan beberapa nama yang dinilai pantas menjadi Capres 2014 di antaranya; Anies Baswedan, Dahlan Iskan, Mahfud MD, Din Syamsudin, Said Aqil Siradj, dan Rhoma Irama .

Dari keenam sosok di atas nama Anies, sapaan akrab Anies Baswedan, menempati posisi teratas dengan selisih tipis atas Dahlan Iskan. Saat ini tingkat keterpilihan Anies Baswedan sebagai Capres pilihan publik dari Non Parpol sebesar 19,6%, disusul kemudian Dahlan Iskan 18,5%, Mahfud MD 16,3%, Din Syamsudin 6,1%, Said Aqil Siradj 5,0%, Rhoma Irama 4,3% dan kemudian sisanya 2,0% tersebar pada nama-nama lainnya, selebihnya 28,3% tidak menjawab atau tidak tahu sosok yang pantas menjadi Capres dari Non-Parpol. Tutur direktur eksekutif LSIN, Yasin Mohammad.  

Menarik mencermati sosok Anies, berdasarkan hasil survei LSIN, ia diminati secara luas dan dari beragam kalangan baik dari sisi demografi, geografi, sosio ekonomi, dan latar belakang politik responden. Dari aspek ideologi politik responden Anies diminati lintas ideologi, dari aspek demografi Anies diminati oleh publik secara merata baik dari segi gender, usia, profesi, dan tingkat pendapatan. Secara geografis dukungan Anies juga merata di seluruh Provinsi di Indonesia dan cenderung dominan di wilayah Sumatra.

Yasin Mohammad, menambahkan bahwa fenomena tersebut tidak lepas dari sosok Anies sebagai tokoh dan intelektual muda Indonesia, pada tahun 2007 nama Anies mencuat ketika menjabat sebagai Rektor Paramadina dan tercatat sebagai Rektor termuda di Indonesia. Anies menyita perhatian publik melalui kegiatan kepedulian terhadap masyarakat terutama di bidang pendidikan lewat program Gerakan Indonesia Mengajar. Ia juga gencar melakukan aksi dan kampanye anti korupsi bersama KPK. Hasratnya di dunia politik semakin diketahui publik tatkala dirinya mendaftarkan diri pada Konvensi Capres Partai Demokrat.

Sementara elektablitas Dahlan Iskan, yang saat ini juga terdaftar dalam peserta Konvensi Capres Partai Demokrat berada di bawah Anies. Dari aspek ideologi politik, Dahlan diminati oleh simpatisan lintas ideologi politik, secara geografis merata di seluruh Provinsi. Dari aspek demografi Dahlan dominan di kalangan dewasa. Elektabilitas Dahlan didorong dari posisinya sebagai pejabat publik yaitu sempat menjadi Dirut PLN, dan saat ini menjabat sebagai Menteri BUMN, posisinya sebagai pengusaha media juga memberikan kontribusi besar, didukung dengan karakternya sebagai pekerja keras serta kegiatan-kegiatan keteladanannya yang bersifat spontanitas. Sebagai penguasa media Dahlan juga melakukan sosialisasi dirinya baik melalui tulisan maupun iklan politik.

Diurutan ketiga muncul nama Mahfud MD, Mahfud MD banyak diminati oleh responden di wilayah Pulau Jawa. Ia dikenal publik sebagai akademisi, Mahfud sempat menjadi anggota DPR dan menjabat sebagai Menteri Pertahanan,  nama Mahfud MD mencuat dan menyita perhatian publik saat dirinya menduduki jabatan sebagai ketua MK. Kemudian Din Syamsuddin juga diusulkan publik menjadi Capres akan tetapi dukungannya masih terpusat di kota-kota besar terutama DKI Jakarta, Said Aqil Siradj berada diurutan kelima dengan dukungan terpusat hanya di wilayah Banten dan Jabar sebagian tersebar di Jatim dan Sulawesi.

Terakhir Rhoma Irama, menarik mencermati Rhoma Irama, elektabilitas Rhoma Irama tidak sebanding dengan popularitasnya, secara geografis dukungannya memang merata di seluruh Provinsi tapi sangat minim. Padahal Rhoma telah lama berkiprah di politik dimana pernah menjadi maskot penting  PPP dimasa Orba, menjadi DPR 1993, dan tampil dipanggung kampanye PKS tahun 2004. Bahkan, saat ini Rhoma telah mendeklarasikan diri menjadi Capres atas dorongan perwakilan Ulama’ dan banyak melakukan safari politik di daerah bersama partai PKB. Namun, upaya yang dilakukan Rhoma belum mampu menaikkan elektabilitasnya, bahkan beberapa responden menilai bahwa Rhoma lebih pantas menjadi “Raja” (dangdut) daripada Capres.  Yasin Mohammad menjelaskan melalui rilisnya.

Survei LSIN ini mengambil sampel sepenuhnya secara acak (probability sampling), menggunakan metoda penarikan sampel acak bertingkat (multistage random sampling), dengan memperhatikan urban/rural dan proporsi antara jumlah sampel dengan jumlah penduduk di setiap Provinsi. Responden adalah penduduk Indonesia yang berumur minimal 17 tahun, dengan didasarkan pada aspek gender, geografi, sosio kultural dan sosio ekonomi, dan ideologi politik responden. Tingkat kepercayaan survei ini adalah 95% dengan Margin of error sebesar ± 3,1%. Pengumpulan data dilakukan melalui dua cara yaitu melalui telpon dengan panduan kuesioner dan wawancara langsung dengan panduan kuesioner oleh surveyor yang tersebar di seluruh Provinsi. (Rls/LSIN)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close