Luthfi Tertunduk Lesu Menitikan Air Mata, Usai JPU Bacakan Dakwaan Pasal Berlapis

  • Whatsapp
Luthfi Azlfiandi bersama ibundanya sesaat mengikuti sidang, Kamis (12/12/2019).

INDOPOLITIKA.COM – Terdakwa Lutfhi Alfiandi, salah seorang demonstran #reformasidikorupsi di depan gedung DPR beberapa waktu lalu, didakwa dengan pasal berlapis. Hal itu diketahui pada saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan surat dakwaan di ruang sidang PN Jakarta Pusat Kamis (12/12/2019) sore.

Dalam surat dakwaan, JPU menguraikan ihwal penahanan remaja tanggung itu. Dia mengungkapkan, pada 30 September sore hari, Luthfi ikut dalam barisan mahasiswa dan pelajar STM berdemonstrasi di belakang gedung DPR/MPR.

Baca Juga:

Luthfi saat itu menggunakan celana abu-abu seperti yang dikenakan anak-anak STM lainnya. Padahal, Luthfi berstatus pemuda pengangguran. “Terdakwa menyamar menggunakan celana abu-abu dan sweater warna hitam,” katanya dalam pembacaan surat dakwaan.

Hingga lebih dari pukul 19.00 WIB, Luthfi yang ikut dalam barisan mahasiswa dan pelajar STM, ikut melempari petugas menggunakan batu, kayu balok, petasan dan gelas air mineral ke arah petugas yang berpakaian dinas. Padahal saat itu, polisi telah mengimbau kepada demonstran untuk tidak melakukan tindak anarkis.

Selain itu, masa pendemo yang diantaranya juga terdapat Luthfi merusak fasilitas milik pemerintah. Seperti pot bunga, pembatas jalan dan oagar pembatas jalan sehingga tidak dapat digunakan lagi.

“Imbauan polisi tidak dihiraukan oleh terdakwa dan pengunjuk rasa yang lain. Malah justru semakin melakukan pelemparan ke arah petugas sehingga situasi semakin rusuh,” ujarnya.

Luthfi akhirnya ditangkap polisi pada pukul 20.00 WIB di depan kantor Polres Metro Jakarta Barat setelah demonstran sukses dipukul mundur petugas dengan cara dihujani gas air mata. “Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana sebagaimana dalam pasal 212 KUH Pidana (orang yang melakukan kekerasan pada aparat negara), pasal 170 KUH Pidana (orang yang secara bersama-sama melakukan kekerasan dan pengrusakan di muka umum), dan pasal 218 KUH Pidana (orang yang tidak mengindahkan peringatan aparat keamanan),” ujarnya menutup lembaran dakwaan yang dia baca.

Mendengar dakwaan itu, Lutfi tertunduk lesu. Dia berkali-kali terlihat mengusap matanya sambil menunduk. Usai sidang, Lutfi hanya meminta doa dari seluruh masyarakat agar bisa melewati masa-masa sulit ini.[asa]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *