Pemerintahan

Mahasiswa Ditantang Membangun Kesadaran Bela Negara

JAKARTA- Ketika terjun dan mengabdi di tengah masyarakat, mahasiswa dituntut untuk bukan hanya membangun sarana fisik, tapi juga sisi non fisik. Dengan cara ini maka akan tumbuh lingkungan kesadaran dalam membela negara, hidup ber-Pancasila, menumbuhkan rasa kebangsaan, kebhinnekaan, toleransi, dan saling menghargai.

Penegasan tersebut disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di depan pengurus pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), Kamis (7/6/2018) di Bina Graha, Jakarta.

Sementara itu, Ketua KMHDI Putu Wiratnaya menyampaikan keprihatinannya pada oknum politisi yang menggunakan cara yang tidak terpuji untuk meraih kekuasaan. Organisasi kemahasiswaan ini juga menyoroti oleh munculnya faham radikalisme yang bertentangan dengan Undang Undang Dasar. Seperti laporan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme yang telah merilis tujuh universitas yang terpapar radikalisme. “Karena itu, mau tidak mau organisasi ekstra kampus harus masuk. Jadi kami merencanakan Cipayung plus yang terdiri dari 9 organisasi akan kembali ke kampus,” tandas Putu.

Dalam dialog terbuka, Moeldoko mengungkapkan KSP mempunyai tiga tugas pokok. Yakni melakukan komunikasi politik, mengelola isu strategis, dan monev program prioritas dan strategis nasional.

Lewat komunikasi politik, KSP terbuka lebar bagi siapa saja. Sementara berbagai isu strategis seperti sosial ekonomi direspons dan dikelola agar bisa diselesaikan. Dalam hal monev, bentuknya adalah berbagai pekerjaan kementerian dan lembaga yang terhambat akan dicari solusinya oleh KSP.

“Sebagai contoh, salah satu isu strategis di bidang kesehatan yang kita tangani adalah kekurangan gizi di Asmat, Papua,” ungkapnya.

Menanggapi pertanyaan soal penanganan radikalisme, Moeldoko mengatakan, hal tersebut sudah menjadi perhatian KSP. Caranya adalah dengan menutup ruang terbuka yang selama ini digunakan. Tentu dengan cara-cara persuasif dan jika tidak bisa lewat cara yang lebih keras. “Kita cukup prihatin dengan teman-teman yang kecenderungannya tidak jelas yang ujungnya mengubah ideologi dengan sistem pemerintahan lain,” tandas Moeldoko.

Oleh karena itu, Kastaf meminta para mahasiswa, seperti halnya KMHDI untuk terjun ke tengah-tengah masyarakat dan membangun bukan hanya sisi fisiknya, tetapi juga non fisik. Di akhir pertemuan KMHDI mengundang Kepala Staf Kepresidenan untuk hadir dalam konggres yang akan digelar pada 29 Agustus 2018 di Yogyakarta.

Tags

Artikel Terkait

Close
Close