Mahasiswa Iran Beber Pengalaman “Mengerikan” Dideportasi Amerika

  • Whatsapp
Para pengunjuk rasa berdiri di luar gedung pengadilan federal tempat sidang dijadwalkan untuk mahasiswa Universitas Northeastern Shahab Dehghani, pada 21 Januari di Boston. (Foto/AP)

INDOPOLITIKACOM – Meletusnya ketegangan antara Iran – Amerika Serikat yang diduga efek terbunuhnya Jenderal Qasem Sulaimani, berdampak terhadap mahasiswa Iran yang menempuh studi di Amerika. Baru-baru ini, beberapa mahasiswa Iran ada yang ditahan, diinterogasi dan dideportasi oleh otoritas AS setibanya di bandara Amerika.

Melansir laporan The New York Times, yang telah menerbitkan wawancara dengan beberapa dari mahasiswa Iran mengatakan, banyak dari mereka telah mendapatkan izin masuk ke beberapa universitas paling bergengsi di dunia.

Bacaan Lainnya

Menurut surat kabar itu, setidaknya 16 mahasiswa Iran telah dideportasi sejak Agustus, meskipun memiliki visa yang sah yang telah mereka peroleh setelah proses skrining berbulan-bulan yang sangat melelahkan.

Ketika para mahasiswa mencapai bandara Amerika, petugas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) tidak setuju dan mengirim mereka pulang. Bahkan di antara mereka ada yang dilarang bepergian ke Amerika hingga lima tahun, baru bisa mengajukan permohonan untuk kembali memasuki Amerika Serikat.

Anehnya, Sebagian besar dari mahasiswa ini mengatakan mereka tidak diberi tahu mengapa mereka dianggap “tidak dapat diterima” di Amerika. “Apa yang diketahui para mahasiswa adalah bahwa, pada saat meningkatnya ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, rencana mereka untuk menata masa depannya dengan menempuh pendidikan di Amerika, nampaknya telah menguap,” kata surat kabar itu.

Amin (34), salah seorang mahasiswa Iran merupakan contoh penolakan Amerika terhadap kehadiran mahasiswa Iran. Amin sendiri adalah mahasiswa program Ph.D di University of Florida, ditolak 1 Januari di Bandara Hartsfield-Jackson di Atlanta.

Karena ditolak, Amin yang berencana pulang kembali ke Iran harus terlantar selama beberapa hari. Bahkan, Amin harus tidur di penjara dengan narapidana lainnya. Amin mengatakan dia ditempatkan di sel yang cukup dingin selama enam jam, sebelum diborgol dan dibawa ke kantor Imigrasi di Georgia. Para petugas di sana memerintahkannya untuk telanjang di depan mereka. “Saat saya memasuki sel, saya kehilangan semangat,” katanya.

Mahasiswa lainnya, Hamid (22), yang mengambil program magister dan Ph.D dalam bidang teknik di Universitas Notre Dame, dikirim kembali ke Iran pada 11 Januari dari Bandara Internasional O’Hare Chicago.

Hamid, yang telah diterima untuk program pascasarjana yang didanai penuh, menunggu delapan bulan untuk visanya. Kemudian ketika dia tiba di Chicago, dia ditempatkan di sel tahanan selama 19 jam.

Petugas meminta pendapatnya tentang peristiwa politik di Iran dan apakah menurutnya Iran melakukan “hal yang benar.” Hamid mengatakan dia dan dua pelancong lain yang ditahan dan diberi kasur busa dan selimut tipis, dan dia sulit tidur.

“Setelah 24 jam, saya dipindahkan oleh dua perwira bersenjata, seolah-olah saya adalah semacam teroris. Itu memalukan dan tidak manusiawi,” katanya.

Pengalaman tidak enak lain diceritakan Reihana Emami, (35) yang berencana menghadiri Harvard Divinity School. Dia ditolak pada 18 September di bandara Logan.

Dia mengatakan seorang perwira CBP menanyakan pendapatnya terkait tanggapan orang-orang Iran tentang ledakan di Arab Saudi. “Saya bilang saya bukan orang politik – saya tertarik dengan pertanyaan filosofis,” katanya.

Sementara Pegah, (28) yang sedang bersiap untuk meraih gelar master dalam administrasi bisnis di Southern New Hampshire University, dipulangkan ke rumahnya pada 1 Agustus dari bandara Logan.

Dia mengatakan seorang perwira CBP telah mengajukan serangkaian pertanyaan seperti di mana kapal Iran menyembunyikan senjata, dan mengapa Iran menangkap sebuah kapal tanker minyak Inggris pada bulan Juli.

“Dia berkata, ‘Tahukah Anda, kami dapat menangkap Anda dan menahan Anda di sini di Amerika Serikat, dan tidak ada yang akan mengerti di mana Anda berada, seperti halnya Iran terhadap orang Amerika?’”

Pegah berkata dia takut. “Saya berkata, ‘Saya tidak tahu apa-apa. Saya benar-benar tidak. Saya hanya seorang siswa,” ulasnya.[asa]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *