Mal Taman Angrek; Dari Lahan Hutan Kota Hingga Kasus Cessie Bank Bali

  • Whatsapp
Mal Taman Anggrek

INDOPOLITIKA.COM Akibat banjir yang melanda Jabodetabek pada awal tahun ini, sejumlah mal di Jakarta dikabarkan tutup. Ketua Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) Budiharjo menuntut kompensasi ke Gubernur DKI Anies Baswedan.

Meskipun belakangan Budiharjo membantah kompensasi yang diminta para penyewa pusat perbelanjaan adalah mengganti kerugian materil imbas banjir, melainkan keringanan yang kaitannya dengan penerimaan pajak. Namun, ketika dia mengambil contoh Mal Taman Anggrek sebagai salah satu mal yang menuntut itu, justru membuka ‘luka lama’ terkait mal tersebut.

Berita Lainnya

Sejarawan Betawi JJ Rizal mengungkapkan lahan yang digunakan Mal Taman Anggrek yang berdiri pada Agustus 1996 dan dibangun di atas lahan seluas 360.000 meter persegi itu sebenarnya menempati lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Hutan Kota.

Menelisik lebih jauh, pembangunan mal yang berlokasi di Jalan Letnan Jenderal S. Parman, Tanjung Duren, Grogol, Petamburan, Jakarta Barat, ini diprakarsai oleh Salimin Prawiro Sumarto, konglomerat asal Kebumen, Jawa Tengah.

Majalah Forbes menempatkan Salimin Prawiro Sumarto di urutan ke-5 dalam jajaran orang terkaya di Indonesia tahun 2008 dengan total kekayaan sebesar 1.300 juta dolar AS.

Dikutip dari Tirto.id, Salimin adalah pemilik Perkasa Motor, dan bersama Anton Haliman, ia mendirikan perusahaan properti PT. Agung Podomoro Group. Salimin mendirikan Mal Taman Anggrek untuk menjawab tantangan kebutuhan Jakarta yang saat itu semakin berbenah sebagai kota metropolitan dan salah satu kota paling sibuk di kawasan Asia Tenggara.

Bangunan mal ini terdiri dari 8 menara yang bisa menampung lebih dari 500 toko yang tersebar dalam 7 lantai. Mal ini merupakan mal pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang menggelar wahana gelanggang es di dalam ruangan.

Tanggal 2 Agustus 2012, Mal Taman Anggrek menyelesaikan proyek layar LED Facade –yang membungkus eksterior gedung– terbesar di dunia dan memperoleh sertifikat Guinness World Records.

Mal ini dikelola oleh Mulia Group yang didirikan oleh keluarga Djoko S. Tjandra. Sekadar mengingat kembali, berikut ini adalah catatan mengenai Djok S Tjandra,

Mengutip dari Kompas (18/06/2008), Nama Djoko alias Tjan Kok Hui, pria kelahiran Sanggau 27 Agustus 1950, kadung jadi buah mulut gara-gara fee atas cessie senilai setengah triliun lebih.

Berita terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *