Internasional

Malaysia-Singapura Berebut Paten Makanan Kaki Lima

Deretan makanan kaki lima yang menjadi ciri khas di Singapura (Foto: AFP).

Singapura: Upaya Singapura untuk mendapatkan pengakuan PBB atas makanan kaki limanya telah memicu perdebatan di dunia kuliner. Kritik paling keras datang dari para koki dari negara tetangga, Malaysia.
 
Seperti halnya negara di Asia Tenggara, Negeri Singa diketahui sebagai rumah bagi para pedagang kaki lima atau 'pedagang asongan' yang menyajikan hidangan seperti ayam dan nasi, mie dan sate daging dengan harga yang relatif murah.
 
Beberapa pedagang asongan bahkan telah diberi bintang Michelin oleh buku kuliner yang telah memiliki edisi Singapura sejak 2016.
 
Perdana Menteri Lee Hsien Loong mengumumkan pekan lalu bahwa Singapura akan mendaftarkan budaya jajanannya ke daftar warisan budaya tak berwujud United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). PM Lee menggambarkan negaranya sebagai pusat "ruang makan masyarakat" yang merupakan bagian dari identitas negara.
 
Namun langkah tersebut memicu amarah warga Malaysia karena kemiripan jajanan dan makanan antara negara Malaysia dan Singapura.
 
Koki selebriti Malaysia Redzuawan Ismail, yang biasa dikenal sebagai Chef Wan, mengatakan kepada AFP bahwa dia menganggap tawaran Singapura kepada PBB sebagai "sampah".
 
"Berbicara makanan kaki lima, bukan hanya Singapura saja yang memiliki budaya itu. Untuk apa dipatenkan ke UNESCO? apakah kalian merasa lebih baik?" kata Chef Wan, seperti dikutip AFP, Jumat 31 Agustus 2018.
 
Sementara chef lainnya, Ismail Ahmad bersikeras bahwa Malaysia adalah surga makanan kaki lima. Seharusnya Malaysia lah yang mendapatkan pengakuan itu.
 
"Bahkan orang Singapura datang ke Malaysia dan menikmati makan di kios kami," kata Ismail.
 
Tetapi warga Singapura tidak memedulikan kemarahan Malaysia dan bersikeras bahwa daftar UNESCO adalah lebih dari sekedar makanan.
 
"Ini adalah tentang warisan budaya makanan jalanan yang mengikat orang-orang menjadi satu dan didukung oleh pemerintah dan industri, karena ini adalah tentang masyarakat. Jika Anda memilikinya, pamerkan," kritikus makanan terkenal K.F. Seetoh, dikutip dari New Paper.
 
Kedua negara bertetangga itu memiliki hubungan yang panas karena Singapura menjadi negara merdeka pada 1965 setelah dikeluarkan dari persatuan singkat dengan Malaysia, tetapi isu makanan ini membuat keduanya cenderung menjadi lebih panas.
 
Singapura berencana untuk mengajukan nominasi ini ke UNESCO pada Maret, dan pengumuman tentang apakah upayanya dapat dikabulkan diharapkan pada 2020. (Khalisha Firsada).

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close