Pemerintahan

Manajemen Sungai Terpadu untuk Indonesia yang Lebih Bersih

JAKARTA- Sebanyak 35 orang peserta Reform Leader Academy (RLA) angkatan XII LAN berkunjung ke Kantor Staf Presiden memaparkan hasil diklat tentang Manajemen Sungai Terpadu dengan contoh kasus Manajemen Sungai Citarum dan Ciliwung. RLA adalah sebuah diklat yang yang  membentuk agents of change atau pemimpin perubahan dalam tema yang sudah dipilih setiap angkatannya. Dalam diskusi ini, peserta RLA menawarkan suatu program manajemen sungai dengan tajuk One River One Management (OROM). Acara tersebut dipimpin oleh Deputi II KSP Yanuar Nugroho dan Kepala Pusdiklat LAN DR. Basseng.

Manajemen Sungai dipilih dijadikan topik karena banyaknya kondisi sungai di Indonesia yang tercemar dan kualitas airnya sangat buruk. Dalam paparan Ketua Kelas Sdr Bayu Aji  dijelaskan bahwa Sungai Citarum dikenal sebagai sungai terkotor di dunia dengan banyaknya sampah yang menghasilkan polusi. Padahal sungai tersebut berfungsi sebagai sumber air minum untuk penduduk Jakarta dan Jawa Barat. Dan Sungai Ciliwung terkenal dengan banjir tahunannya dan padatnya pemukiman di bantaran sungai. Oleh karena itu kedua sungai ini menjadi sangat penting untuk dijaga bagi kelangsungan hidup masyarakat.

“Permasalahan sungai tidak bisa dianggap sepele, karena sebagian masyarakat hampir menggantungkan kehidupannya pada sungai. Terlebih lagi masyarakat menggunakan sungai untuk dijadikan sumber air minum” kata Bayu Aji, Selasa 4 September 2018.

Lebih lanjut Bayu Aji memaparkan sebuah cara manajemen sungai terpadu yang diberi tajuk OROM. Manajemen OROM ini mengajukan  beberapa solusi kepada pemerintah pusat sebagai stakeholder utama dalam manajemen sungai agar lebih memperhatikan pemberdayaan sungai yang ada di Indonesia, terutama untuk Sungai Citarum dan Sungai Ciliwung.

Yanuar Nugroho menyampaikan bahwa masalah sungai adalah masalah ekosistem, sehingga dalam menyusun kebijakan pengelolaan sungai harus berbasis ekologi/ ekosistem bukan berbasis administrasi wilayah. Hendaknya dalam menyusun usulan Kebijakan ini harus mempunyai 3 landasan berpikir yaitu; (1) kerangka institusi, (2) kerangka regulasi dan (3) kerangka akuntabilitas serta didukung komitmen politik yang kuat di daerah. Kemudian Yanuar menambahkan untuk memastikan suatu program layak untuk dilaksanakan maka harus jelas tujuan dari program itu, dan cara mencapai tujuan tersebut.

whatsapp-image-2018-09-05-at-13-01-05-1

Persoalan dampak dari erosi dan polusi sungai terhadap lingkungan sekitar tentu tidak dapat dibiarkan begitu saja. Terlebih lagi, banyak sungai yang merugikan masyarakat yang bermukim di sekitar sungai.

“Saya berharap, program ini dapat dipersiapkan lebih matang lagi agar bisa membuat sungai khususnya di Jakarta dan Jawa Barat lebih baik” Ucap Yanuar.

Sebelum menutup diskusi bersama ini, Yanuar menegaskan pentingnya paradigma money follows programs not money follows functions. Maksudnya adalah agar program/ kebijakan yang diusulkan dapat dijalankan dan jelas kerangka akuntabilitasnya.

Dalam diskusi peserta menyampaikan kondisi saat ini yang dihadapi di lapangan dan harapan-harapan ke depan dengan diadopsinya OROM tersebut.

whatsapp-image-2018-09-05-at-13-01-05

Diskusi kemudian ditutup dengan tanggapan dari DR. Basseng yang menyatakan bahwa walaupun diklat akan berakhir keesokan hari, tapi tetap akan ada wadah / grup alumni sehingga perbaikan dan revisi dari usulan kebijakan tetap bisa dilakukan. Dan beliau menegaskan bahwa para peserta tetap bersedia dan semangat.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close