Mantan Budak Seks ISIS Bertemu Penculiknya di Jerman

  • Whatsapp
Bendera hitam ISIS. (Foto: Independent)

Stuttgart: Seorang gadis dari etnis Yazidi yang pernah menjadi budak seksual untuk kelompok militan Islamic State (ISIS) berhasil melarikan diri ke Jerman. 

Namun ia terpaksa kembali ke Irak setelah bertemu dengan orang yang dulu pernah menculiknya.

Baca Juga:

Ashwaq Ta'lo diculik dan dijual ketika dia berusia 15 tahun, setelah para militan ISIS menyerbu rumahnya di Sinjar, Irak utara.

Remaja Kurdi itu dibeli seorang militan ISIS bernama Abu Humam dengan harga sekitar Rp1,5 juta. Ia dibawa ke Suriah dan dipaksa masuk Islam.

Tetapi lebih dari dua tahun setelah pelariannya, Ta'lo tidak sengaja bertemu Humam di Stuttgart. 

"Saya terkejut saat melihat wajahnya. Itu Abu Humam, dengan janggut yang sama. Saya terdiam ketika dia mulai berbicara dalam bahasa Jerman, bertanya, 'Kamu Ashwaq, bukan?'" lanjut dia, seperti disitat dari IOL News, Minggu 19 Agustus 2018.

Ketika gadis itu melaporkan penculiknya ke polisi Jerman, dia diberitahu bahwa aparat keamanan tidak dapat berbuat apa-apa karena Humam berstatus pengungsi.

Ta'lo ditangkap bersama seluruh keluarganya pada 2014. Humam membeli Ta'lo dan membawanya ke Mosul. Ta'lo mengaku dipaksa salat lima kali sehari dan menghafal Al-Qur'an.

Dia mengklaim Humam menyiksanya setiap hari selama lebih dari sepuluh bulan, sebelum akhirnya dapat melarikan diri pada musim panas 2015. Ta'lo mengaku bisa kabur usai mencampur makanan penculiknya dengan pil tidur.

Bersama empat budak lainnya, ia berjalan selama 14 jam ke Gunung Sinjar dan bersatu kembali dengan anggota keluarganya di Kurdistan Irak. Kemudian dia pergi ke Jerman sebagai pencari suaka.

Remaja itu tinggal bersama ibunya dan dua saudara laki-lakinya di Stuttgart dan mulai belajar bahasa Jerman di sekolah. Dia didekati oleh Humam di jalanan pada Februari tahun ini, dua setengah tahun setelah melarikan diri.

Setelah pertemuan, Ta'lo bersembunyi dari Humam dan memberi tahu kakaknya, untuk kemudian melaporkan ke polisi.

"Polisi memberi tahu saya bahwa dia juga pengungsi, sama seperti saya, dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa," kata Ta'lo.

Ta'lo memutuskan kembali ke Kurdistan, di mana dirinya sekarang tinggal bersama sang ayah. Adik dari remaja itu masih ditahan ISIS, dan keberadaan lima saudara laki-lakinya juga belum diketahui.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *