Mantan Presiden Mesir Terlama Hosni Mubarak Meninggal Dunia

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Mantan Presiden Mesir Husni Mubarak dilaporkan meninggal dunia pada usia 91 tahun di rumah sakit militer di Kairo.

Dikutip dari CNN, Selasa (25/2/2020), Mubarak dilaporkan meninggal ketika menjalani operasi di rumah sakit tersebut. Namun, tidak dipaparkan secara rinci alasan mengapa dia harus menjalani bedah.

Bacaan Lainnya

Muhammad Hosni Said Mubarak atau yang lebih dikenal dengan Hosni Mubarak, merupakan perwira militer dan politisi yang menjabat sebagai presiden Mesir selama hampir 30 tahun.

Dikutip dari Kompas.com, Hosni Mubarak diangkat sebagai presiden Mesir pada Oktober 1981 hingga Februari 2011, setelah didesak untuk mundur melalui aksi demonstrasi selama 18 hari.

Hosni Mubarak lahir pada 4 Mei 1928 di Al Minufiyyah, Mesir, di Delta Sungai Nil. Dia menempuh pendidikan di akademi militer sebelum bergabung dengan akademi angkatan udara.

Setelah merampungkan pendidikan di akademi militer di Kairo pada 1949, Hosni melanjutkan ke akademi angkatan udara di Bilbeis setahun kemudian. Dia juga sempat menjalani pelatihan penerbangan lanjutan serta menerbangkan pesawat pembom di Uni Soviet.

Setelah kembali ke Mesir, Hosni memegang posisi komando angkatan udara dan menjadi direktur akademi udara pada 1966 hingga 1969.

Presiden Anwar Sadat menunjuk Hosni Mubarak sebagai komandan kepala angkatan udara. Dia pun membuktikan kemampuannya dengan menunjukkan keberhasilan kinerja angkatan udara Mesir dalam masa-masa awal perang dengan Israel pada Oktober 1973.

Pada 1974, Hosni Mubarak dipromosikan menjadi perwira tinggi angkatan udara dan setahun kemudian, Presiden Sadat menunjuknya menjadi wakil presiden. Selama menjabat sebagai wakil presiden, Hosni Mubarak aktif dalam negosiasi pembahasan kebijakan Timur Tengah dan Arab.

Dia juga menjabat sebagai mediator utama dalam perselisihan antara Maroko, Aljazair, dan Mauritania atas wilayah Sahara Barat.

Pada 6 Oktober 1981, Presiden Anwar Sadat tewas dibunuh oleh sekelompok tentara yang dipimpin seorang letnan, saat peringatan dimulainya perang Mesir-Israel.

Hosni Mubarak yang turut terluka dalam misi pembunuhan itu diangkat menjadi presiden delapan hari berselang.

Selama tahun-tahun awalnya menjabat sebagai presiden, Hosni Mubarak berhasil meningkatkan hubungan dengan negara-negara Arab lainnya. Dia juga menurunkan ketegangan dengan Israel, terutama pascainvasi Israel ke Lebanon pada 1982.

Hosni Mubarak menegaskan kembali perjanjian damai Mesir dengan Israel di bawah perjanjian Camp David (1979), serta meningkatkan hubungan dengan Amerika Serikat, yang menjadi pemberi bantuan utama Mesir.

Pada 1987, Mubarak kembali terpilih sebagai presiden untuk masa jabatan enam tahun kedua. Selama krisis Teluk Persia dan perang setelah invasi Irak ke Kuwait pada 1990, Mubarak mengajak negara-negara Arab dalam mendukung keputusan Arab Saudi untuk mendatangkan bantuan koalisi militer yang dipimpin AS untuk memulihkan Kuwait. Dia juga berperan penting dalam menengahi perjanjian bilateral antara Israel dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pada 1993.

Pada 1993, Mubarak kembali terpilih sebagai presiden untuk masa jabatan ketiga. Sejak saat itu, kekerasan oleh kelompok gerilya meningkat dan kelompok oposisi mendesak reformasi pemilu yang demokratis.

Pada 1995, Hosni Mubarak lolos dari upaya pembunuhan di Etiopia. Dia kembali diserang pada 1999 dan mengalami luka akibat senjata tajam.

Meski telah mulai menghadapi tekanan untuk mundur, bahkan mendapat beberapa kali upaya pembunuhan, Mubarak tetap bertahan dan bahkan terus mendorong perdamaian di Timur Tengah.

Hosni Mubarak kembali menjabat presiden untuk masa jabatan keempat setelah tidak ada calon lain yang menjadi lawan dalam pemilihan 1999. Pada 2005, Mubarak kembali memenangkan pemilu untuk masa jabatan kelima. Saat itu pemilihan diikuti sejumlah kandidat, namun jumlah pemilih mengalami penurunan, serta adanya tuduhan penyimpangan dalam pemilu.

Pada 2011, kawasan Timur Tengah diguncang gerakan pemberontakan oleh rakyat, yang diawali dengan gerakan Revolusi Melati di Tunisia, yang mendorong Presiden Zine al Abidin Ben Ali untuk mundur.

Januari 2011, unjuk rasa mulai muncul di Mesir, dengan massa pengunjuk rasa yang memprotes penindasan, korupsi, serta kemiskinan yang semakin parah di negara itu. Massa mendesak Presiden Mubarak yang telah menjabat hingga enam periode untuk mundur.

Sempat menghilang dari publik, Presiden Mubarak muncul setelah bentrokan massa pengunjuk rasa dengan polisi memasuki hari keempat. Mubarak menyampaikan pidatonya melalui televisi pemerintah, yang intinya mengatakan bahwa dirinya akan tetap menjabat. Namun presiden akan membubarkan kabinet dan melakukan reformasi sosial serta ekonomi.

Langkah tersebut dikecam massa pengunjuk rasa sebagai alasan untuk tetap berkuasa dan tidak berdampak banyak dalam menenangkan aksi kerusuhan.

Hari berikutnya, Presiden Mubarak mengambil keputusan dengan menunjuk wakil presiden untuk pertama kalinya selama menjabat. Namun aksi protes masih berlangsung hingga Februari.

Pada 1 Februari, Mubarak kembali tampil di televisi dan mengumumkan bahwa dirinya tidak akan kembali maju dalam pemilihan presiden berikutnya yang dijadwalkan digelar pada bulan September 2011.

Desakan untuk mundur terus datang dari rakyat Mesir, hingga pada 10 Februari, Mubarak kembali menyampaikan pidatonya di televisi. Dalam pidatonya, Mubarak menyatakan akan tetap merampungkan masa jabatannya hingga selesai, namun dia juga mendelegasikan sebagian kekuasaannya kepada wakil presiden Omar Suleiman.

Dia juga kembali menjanjikan akan melakukan reformasi pemilu, serta akan mencabut hukum darurat Mesir yang telah diberlakukan sejak 1981. Sehari berselang, Mubarak meninggalkan Kairo menuju tempat peristirahatannya di Sharm el-Sheikh, di Semenanjung Sinai.

Beberapa jam setelah kabar Mubarak meninggalkan Kairo, wapres Suleiman muncul di televisi dan mengumumkan bahwa presiden Mubarak telah mengundurkan diri sebagai presiden dan menyerahkan kekuasaan memimpin pemerintahan kepada Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata.

Pengumuman pengunduran diri Mubarak disambut perayaan dan sukacita di sejumlah lokasi di mana massa berunjuk rasa.

Setelah Mubarak mundur dari jabatan presiden, pemerintah Mesir segera memulai penyelidikan atas kasus dugaan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan rezim Mubarak.

Mubarak, kedua putranya, Alaa dan Gamal, serta para pejabat dan mantan pejabat yang dekat dengan presiden diperiksa. Termasuk juga pada pemimpin bisnis yang memiliki kedekatan dengan Mubarak.

Pada 12 April 2011, saat menunggu untuk diperiksa, Mubarak dilarikan ke rumah sakit setelah dilaporkan mengalami serangan jantung. Dia dirawat di rumah sakit di Sharm el-Sheikh setelah hasil evaluasi medis menyatakan kondisi kesehatan Mubarak tidak memungkinkan untuknya dipindahkan ke penjara di Kairo.

Pada 24 Mei 2011, jaksa penuntut umum mengumumkan bahwa Mubarak akan diadili atas tuduhan memerintahkan pembunuhan demonstran, korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Bertahun-tahun setelahnya, Mubarak masih menghadapi kasus hukum dan menjalani persidangan.

Juni 2012, pengadilan Mesir memutuskan Mubarak bersalah dalam insiden kematian demonstran dan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup. Namun dia dibebaskan dari tuduhan korupsi.

Pada Januari 2013, pengadilan Mesir memerintahkan pengadilan ulang untuk kasus pembunuhan demonstran dan korupsi karena masalah prosedural dalam persidangan pertama.

Pada Mei 2014, pengadilan Mesir menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara untuk Mubarak karena menggelapkan dana publik. Masing-masing putranya dijatuhi hukuman empat tahun penjara karena kasus yang sama.

Pada November 2014, pengadilan menolak dakwaan terhadap Mubarak atas pembunuhan demonstran, dengan alasan yurisdiksi pengadilan telah dibatalkan oleh penundaan tiga bulan dalam pengajuan jaksa penuntut atas dakwaan asli terhadap Mubarak pada 2011. [rif]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *