Mapala se-Banten Kritisi Pemkab Serang Soal Ciujung, Sungai “Comberan” Terluas di Indonesia

  • Whatsapp
Aksi Mapala se-Banten minum air Sungai Ciujung, sebagai aksi ktitik terhadap Pemkab Serang.

INDOPOLITIKA.COM- Melontarkan kritikan terhadap kebijakan maupun sikap apatis pemerintah, tidak melulu harus dengan menggelar demo besar-besaran. Ada cara-cara lain yang juga tak kalah elegan.

Seperti aksi Mapala se-Banten ini yang lebih memilih meminum air yang berasal dari Sungai Ciujung, dalam mengkritisi Pemkab Serang. Mereka menduga, sungai tersebut sudah dicemari limbah B3 dan beracun.

Baca Juga:

Namun, harapan normalisasi sungai itu tak kunjung direlisasika pemerintah setempat. Dengan minum air dari sungai itu, mereka tidak khawatir kesehatan terganggu.

Mereka hanya ingin membuktikan, jika apa yang mereka sangkakan bisa saja benar. “Kami siap masuk rumah sakit. Kalau memang selesai minum air ini, tidak ada efek merugikan, berarti air sungai Ciujung layak dikonsumsi,” kata Korlap Aksi, Muhamad Taufik.

Sebelum aksi ini, mereka mengaku sempat menanyakan soal sungai Ciujung ke Pemkab Serang. Jawabanya diluar dugaan.

“Ketika kami tanya ke Pemkab Serang, jawabannya lucu, limbahnya enggak bermerk. Itu kan tugas mereka (mengecek kualitas air di Sungai Ciujung),” jelas Taufik, ditemui di Alun-alun Kota Serang, Banten, Senin (28/10/2019).

Dalam aksinya, mereka membawa sebanyak 10 botol air mineral berukuran satu liter. Dari kondisinya, air itu nampak sekali berwarna hitam pekat dan berbau menyengat. Maka, mereka pun menyebut jika sungai Ciujung merupakan sungai comberan terluas di Indonesia.

Alasan penyematan label itu menurut para mahasiswa, karena sungai yang hilirnya berada di Kabupaten Lebak itu, menjadi lokasi pembuangan limbah industri yang ada di Kabupaten Serang.

“Jika ingin melihat kondisi Sungai Ciujung yang berwarna hitam dan berbau menyengat, bisa melihat dari Jembatan Jongjing, Desa Jongjing, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten. Sungai itu akan bermuara langsung ke pantai,” jelasnya.

Aksi ini, jelas Taufik, lanjutan dari beberapa kali aksi sebelumnya. Pertama kali dengan mengibarkan bendera Merah Putih di Jembatan Jongjing, kedua nya dengan aksi menggantung diri di depan Pemkab Serang, ketiga nya dengan melakukan aksi tanam pohon dibantaran Sungai Ciujung.

“Ini tentang lingkungan, karena kita hidup bergantung pada alam, bagaimana kita merawatnya. Air di Ciujung hitam, bau, itu secara kasat mata saya,” jelasnya.{asa}

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *