Nasional

Masykuri Abdillah: Poros Islam Kebangsaan Bentuk Islam Wasathiyah

Islam Poros Kebangsaan sebagai bagian dari tafsir Islam Wasathiyah dalam bingkai ide, bisa saja terjadi dalam konstelasi politik menjelang Pilpres 2019. Akan tetapi penekanannya Poros Islam Kebangsaan yang diakomodir Partai Islam harus lebih beorientasi pada pembangunan.

Pikiran di atas digulirkan Prof Dr Masykuri Abdillah dalam Diskusi Publik bertajuk “Poros Islam Kebangsaan” yang digelar Pusat Kajian Media di Sekolah Pascasarjana, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kamis (22/3/2018). Selain Masykuri Abdillah hadir pembicara lain, Komaruddin Hidayat, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Islam wasathiyah yang disasar Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, adalah Islam pertengahan. Wasathiyyah menurut Masykuri, merupakan bagian yang sangat penting dari Islam itu sendiri. Ia adalah bagian dari ciri atau karakteristik yang prinsip dalam Islam.

“Namun masalah wasathiyyah  terkadang kabur di tengah kaum muslimin, dalam artian  tidak ditempatkan secara proporsional. Dan dalam konteks menjelang Pilpres 2019, isu ini ditemukan di berbagai media sebagai satu cara untuk menggalang simpati publik, “ ujar Masykuri.

Dalam pandangan Masykuri, karena secara konsep turunan dari wasathiyyah, sehingga pemaknaan Islam tidak hanya aspek politik pemerintahan atau harus jadi pemerintahan, bagaimana orientasi pembangunan dan aspirasi Islam sering didengarkan sebagai representasi dari Islam fungsional.

“Sejarah koalisi Islam, melihat sejarah konstelasi politik Islam di masa lalu, sangat mungkin terjadi, dan bisa saja terjaid di 2019. Akan tetapi sejarah juga mengatakan bahwa terjadi juga dalam konflik-konflik internal ketika koalisi Islam terbentuk. Fakta ini jangan dilupakan,” ujar alumnus Hamburg University, Jerman, Jurusan Islamic Studies pada the Department of Middle Eastern History and Culture itu.

Untuk itu, dalam pandangan Masykuri, ada empat pilar yang akan saling menopang ketika Poros Islam Kebangsaan terbentuk. Empat pilar itu; massa, money, managemen dan media, akan saling bahu membahu.

“Apakah koalisi partai Islam yang akan tergabung dalam Poros Islam Kebangsaan bisa memenuhi empat pilar tersebut? Mengakomodasi empat pilar dalam membangun Poros Islam Kebangsaan, adalah sebuah keharusan,” ujar Masykuri.

Akomodasi lanjut Masykuri, adalah menerima aspirasi umat baik dalam bentuk ide maupun tokoh yang akan dijadikan simbol dalam membentuk Poros Islam Kebangsaan. Banyak tokoh alumni PMII, HMI yang masuk partai nasionalis, yang bisa dijadikan ikon dalam pergerakan Poros Islam Kebangsaan.(ind)

Tags

Artikel Terkait

Close