Membangun Budaya Sekolah Baru di Tengah Ancaman Pandemi

  • Whatsapp

Oleh: Nanang Haroni (Direktur Paras Foundation, Dosen FISIP UAI)

INDOPOLITIKA.COM – Hampir dua tahun, kehidupan kita diuji Pandemi Covid-19. Banyak hal berubah, mulai dari cara hidup, cara berelasi, dan cara kita beradaptasi. Virus ini, bisa kapan dan dimana saja mengancam kesehatan bahkan nyawa, jika abai terhadap asas protokol kesehatan. Lebih dari itu, Pandemi ternyata juga berdampak signifikan terhadap bagian vital kehidupan kita lainya, yaitu dunia pendidikan. Dunia pendidikan kita nyaris lumpuh, bahkan berada diambang kritis. Ada banyak kecemasan yang timbul akibat pola perubahan proses pembelajaran di masa pandemi ini.

Berita Lainnya

Ancaman Pandemi di Sektor Pendidikan

Kemendikbud (2020) mencatat, dalam pelaksanaan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) terdapat tiga masalah penting yang terjadi. Yakni menurunnya intensitas belajar mengajar, meningkatnya kesenjangan pembelajaran, dan munculnya berbagai hambatan pembelajaran, baik dari aspek fisik maupun psikis. Masalah tersebut, jika tidak ditangani, bisa menimbulkan efek negatif jangka panjang dan hampir tak terbayangkan. Risiko-risiko kehilangan suasana belajar, meningkatnya kesenjangan akses dan mutu pembelajaran, juga ancaman putus sekolah akan menjadi momok bagi generasi ke depan.

Problematika ini, tidak bisa dianggap remeh, mengingat postur demografis negara kita, cukup gemuk di rentang usia anak-anak sekolah. Investasi modal sosial genarasi mendatang akan menjadi minus, jika para peserta didik tidak diselamatakan melalui strategi pendidikan yang memadai.

Lebih dari sekadar dugaan, fenomena di atas perlahan menjadi nyata. Data Penyelenggaraan Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19 yang dirilis Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Agustus 2021), misalnya, memberi kita kabar buruk. Temuan tersebut mengungkapkan bahwa tiga permasalahan pokok telah hadir menyelimuti dunia pendidikan di Indonesia yaitu, angka putus sekolah, penurunan capaian belajar, dan kekerasan pada anak serta resiko eksternal. Kondisi ini teridentifikasi setelah lebih dari setahun pandemik Covid-19.

Kondisi ini terjadi khususnya di daerah-daerah. Lalu bagaimana merumuskan jalan keluar atas risiko-risiko di atas?

Sejauh ini, Kemendikbud-Ristek sudah melakukan langkah-langkah strategis pada tingkat kebijakan dan program-program yang dialamatkan untuk menangkal potensi-potensi buruk tersebut. Salah satunya adalah proram pendampingan psikososial, literasi dan numerasi untuk Peserta Didik, khususnya tingkat SD (Sekolah Dasar), yang dilaksanakan bersama institusi atau lembaga-lembaga swasta yang fokus di dunia pendidikan. Lembaga kami, Paras Foundation menjadi bagian yang terlibat dari aktvitas tersebut.

Paras diberikan amanah untuk melakukan program pendampingan di Kabupaten Muaro Jambi. Kehadiran kami di sana adalah untuk tiga hal. Pertama, melakukan assessement atas kompetensi peserta Didik tingat SD. Kedua, melakukan pendampingan psikosisal, literasi dan numerasi. Dan ketiga, memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemangku kebijakan terkait dan sekolah-sekolah untuk atas permasalah pembelajaran di masa pandemi.

Temuan

Dari hasil identifikasi yang kami lakukan di 10 sekolah tersampling di Kabupaten Muaro Jambi, penurunan kompetensi belajar peserta didik, memang nyata adanya. Setidaknya tiga dari 10 siswa, mengalami kesulitan mengerjakan soal-soal sederhana yang kami berikan sesuai dengan kurikulum Kemendibud, bahkan untuk peserta didik kelas 1 dan dan 2, tidak sedikit yang belum bisa membaca dan berhitung.

Selain itu, secara psikis, teridentifikasi juga beberapa peserta didik yang mengalami kondisi kehilangan nuansa belajar. Ini terlihat ketika ada beberapa anak di kelas, yang merasakan kejenuhan hingga tidak tertarik untuk mengikuti pembelajaran dan instruksi kelas. tentu saja, kondisi tersbeut bisa disebabkan oleh banyak faktor. Tetapi dari pendalaman masalah yang lebih jauh kami selidiki, kondisi tersebut lebih banyak diakibatkan oleh lingkungan belajar yang tidak memadai ketika pembelajaran dilakukan dari jarak jauh semasa pandemi. Tidak adanya support system yang mampu menggaransi proses pembelajaran bagi peserta didik.

Penyebab tersebut diantaranya adalah ketidakberdayaan orang tua peserta didik untuk mendampingi prose pembelajaran di rumah. Kemudian, minimnya

kepiawaian guru untuk menyajikan konten pembelajaran digital secara menarik dan efektif. Selain itu, kondisi ini diperburuk hambatan infrastruktur telekomunikasi seperti tidak adanya media pembelajaran seperti gawa bagi beberap anak, juga kesulitan jaringan internet.

Rekomendasi

Selama kurang lebih satu bulan kami live in melakukan pendampingan di Kabupaten Muaro Jambi, setidaknya ada tiga rekomendasi yang kami tawarkan.

Pertama, harus ada upaya untuk memberikan soft skill tambahan untuk para tenaga pendidik, untuk antisipasi ketika pembelajaran dilakukan secara daring. Kecakapan tersebut adalah tentang penggunaan perangka media dari seperi Zoom Meeting, Grup Whatsup dan sejenisnya, agar bisa dioperasikan secara kondusif. Itu untuk level yang mungkin di perkotaan dianggap sederhana.

Di level yang sedikit lebih rumit, tentu mereka butuh kecakapan membuat video sederhana untuk pembelajaran, misalnya. Mulai dari pengambilan gambar hingga editing dengan aplikasi-aplikasi yang kini banyak tersedia di ponsel pintar. Dalam konteks ini, tentu saja poinnya adalah membekali pendidik dengan kemampuan penyampaian dan pembuatan konten pembejaran secara manarik dan sesuai dengan dunia anak.

Kedua, sekolah perlu melakukan supervisi secara intensif terhadap para orang tua peserta didik dalam melakukan pendampingan pembelajaran ketika di rumah. Bekali mereka dengan pengetahuan praktis sebagai orang tua pendamping anak ketika belajar. Tidak harus sangat ideal, paling tidak misalnya, mereka menyadari pentingnya pendampingan dan memahami model komunikasi yang harus dikembangkan saat melakukan pendampingan di rumah.

Di sinilah peran kepala sekolah diperlukan untuk terus membangun komunikasi yang baik dan efektif dengan orang tua peserta didik. Ini, sekaligus untuk memperkuat dan menjalankan peran baru kepala sekolah sesuai dengan Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala dan Tuga Pokok Kepasa Sekolah (Pasal15), dimana salah satu perannya adalah melakukan supervisi dan manajerial.

Ketiga, sekolah perlu membangun kesadaran bahwa dunia sedang berubah, dan dibutuhkan suatu kemampuan adaptatif. Ketika ini telah tersemat pada pikiran sekolah, maka diharapkan sekolah dapat melakukan transisi dan adaptasi secara cepat ketika terjadi sebuah proses perubahan sosial yang tidak bisa terduga seperti fenomena pandemi Covid-19.

Semua rekomendasi dan upaya-upaya di atas dirangkum dalam sebuah tujuan untuk membangun budaya baru sekolah dengan prinsip pendidikan antisipatoris. Besar harapan, jika terjadi kondisi-kondisi perubahan yang mendadak dan tiba-tiba, tidak terjadi kepanikan dan kegalauan warga sekolah untuk menhadapi dan menjalani proses pembelajaran. (***)

Berita terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *