Menakar Peluang Partai Baru di Pemilu 2024 (bagian 1)

  • Whatsapp
Oleh: Achmad Fachrudin, Pendiri Literasi Demokrasi Indonesia

Seperti pada kontestasi elektoral sebelumnya, jelang gelaran Pemilu Serentak 2024,  sejumlah partai politik (Parpol) baru bermunculan. Diantaranya Partai Gelombang Rakyat (Gelora), Usaha Kecil dan Menengah (UKM),  Partai Ummat, Partai Masyumi Reborn, Partai Emas, Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA), dan kemungkinan masih akan muncul lagi Parpol Baru lainnya.  Apa latar belakang atau motiv pendirian  Parpol baru, dan bagaimana syarat bagi Parpol baru jika ingin sukses di medan kontestasi yang sesungguhnya? Merupakan tema aktual dan menarik untuk didiskusikan.

Sejumlah parta politik (Parpol) baru tersebut adalah Partai Gelora yang didirikan dengan  tokoh sentralnya antara  Anis Matta, Fahri Hamzah dan Mahfud Sidiq. Partai UKM didirikan oleh Bustan Pinrang dan Syafrudin Budiman. Partai Ummat, diprakarsai oleh tokoh reformasi Amien Rais, Partai Masyumi Reborn diketuai KH. Ahmad Cholil Ridwan, Partai Emas dengan Ketua Umumnya  Partai Emas Hasnaeni, PRIMA didirikan mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik Agus Priyono yang biasa disapa Agus Jabo.

Berita Lainnya

Partai baru tersebut nantinya berkontestasi dengan Parpol yang memiliki kursi  di parlemen dan Parpol  yang tidak lolos ambang batas 3,5 persen atau parliamentary treshold (PT). Jumlah totalnya mencapai 16 Parpol. Rinciannya Parpol parlemen sebanyak 9 partai. Yakni:  Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Partai Gerindra,  Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB),  Partai Nasdem, Partai Keadilan Sejahtera  (PKS),  Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Adapun tujuh Parpol lainnya  yang tidak memenuhi ambang batas 3,5 persen atau PT adalah: Partai Persatuan Indonesia (Perindo),  Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura),  Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Garuda dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Jika ditambah dengan Parpol baru—dengan catatan jika lolos dari verifikasi Parpol—akan terdapat 22 Parpol peserta Pemilu 2024.  Tetapi rasanya tidak mudah bagi semua Parpol non parlemen dan Parpol baru lolos dari verifikasi Parpol dan menjadi peserta Pemilu 2024.

Motiv Pendirian

Tanpa melalui riset akademik dengan metodologi ilmiah dan empirik, banyak faktor yang melatari pendirian Parpol baru. Diantaranya, pertama motiv idealisme yakni: sebagai respon atau reaksi keprihatinan dan ketidakpuasan terhadap Parpol lama yang dianggap tidak atau belum sepenuhnya melaksanakan fungsi kepartaian sebagaimana mestinya. Sebaliknya, Parpol lama dianggap lebih sekadar jembatan meraup keuntungan politik dan ekonomi pribadi dan kelompoknya.

Kedua, motiv pragmatisme, yakni: adanya peluang konstitusional untuk mendirikan Parpol bagi setiap warga negara Republik Indonesia. Dengan adanya peluang tersebut, banyak tokoh kepincut untuk mendirikan Parpol baru. Dengan mendirikan Parpol, meminjam pandangan Richard S. Katz dan William Cotty dalam “Handbook of Party Politics” (2006), akan diperoleh berbagai sumber kekuasaan. Dengan kata lain, pendirian Parpol baru juga tidak bisa dilepaskan dari motiv pragmatisme atau kekuasaan.

Ketiga, motiv personalized atau keyakinan dari pendiri partai yang merasa dirinya sebagai tokoh yang memiliki kredibilitas, kapasitas, kapabilitas, kharisma, pengalaman, kekuatan, kemampuan, pengikut loyal dan sebagainya. Dengan segudang asumsi tersebut, para pendiri Parpol baru tersebut optimis mampu menarik dukungan massa untuk masuk ke dalam partai baru yang dibesutnya.

Keempat, motiv kekecewaan terhadap partai lama yang pernah didirikan atau pernah diikutinya. Yang dianggapnya telah bergeser  dari mission sacred awal pendirian partai. Sebagai gantinya mereka mendirikan partai baru. Harapannya tentu saja selain mampu menarik massa dari partai lama yang ditinggalkannya, juga mampu menarik massa atau pemilih yang masuk pada kategori swing voter atau undecided voter. Pada setiap kali Pemilu, jumlah pemilih kategori ini paling banyak. Sekitar 80-19 persen dari jumlah total pemilih.

Metafora Kendaraan

Dengan meminjam metafora kendaraan roda empat,  Parpol diibaratkan dengan kendaraan  roda empat. Metafora tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut: pertama, memiliki kendaraan dengan merek (brand) terkenal karena kualitasnya. Dalam kontek kendaraan roda empat, merek Mercy, Toyota atau Honda, masuk dalam kategori merek ternama. Sehingga pembeli tidak ragu bila membeli diantara ketiga merek mobil tersebut. Demikian juga Parpol baru, hendaknya  memiliki brand ternama  sehingga pemilih tidak ragu melirik dan memilihnya di Pemilu.

Kedua, kendaraan roda empat  harus ada sopir atau driver  tangguh, andal dan berpengalaman seingga kendaraan dapat leluasa bergerak ke tujuan yang ingin disasar dengan cepat, tepat dan selamat. Pun demikian Parpol, harus dipimpin oleh driver atau Ketua Umum yang tangguh, andal dan berpengalaman. Dengan Ketua Umum Parpol seperti itu,  Parpol baru dapat mengamban visi, misi dan tujuannya untuk dapat berbicara banyak di pentas demokrasi elektoral, khususnya Pemilu Legislatif (Pileg).

Ketiga, pada kendaraan roda empat, peran bensin sangat penting.  Dengan bensin full tanky dan beroktan rendah, kendaraan akan leluasa beroperasi kemananpun yang diinginkan dengan cepat dan aman. Bensin bagi Parpol ibarat uang atau anggara. Dengan anggaran memadai, menjadi modal bagi Parpol untuk mengktualisasikan tujuan, fungsi dan target-target politiknya. Tanpa modal memadai, geliat atau pergerakan Parpol baru akan tersendat dan apa akhirnya berpotensi sulit melaksanakan fungsi dan programnya dengan maksimal.

Keempat, dalam kendaraan, ada penumpang. Dalam jagat perpolitikan, penumpang mirip dengan pendukung atau konstituen. Dengan dukungan konstituen militan, loyal serta banyak jumlahnya, Parpol berpeluang meraih suara/kursi pada setiap gelaran Pileg. Tanpa dukungan konstituen memadai baik secara jumlah dan loyalitasnya, Parpol baru berpotensi tidak mendapat dukungan pemilih. Muaranya berpotensi tidak lolos ambang batas atau PT yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang Pemilu.

Dukungan Lainnya

Dari metafora dengan kendaraan roda empat, jika Parpol baru ingin  sukses di Pemilu Serentak 2024 khususnya di Pileg,  harus dapat bertransformasi, bermetamorfosis dan  menjelmakan dirinya menjadi suatu partai yang memiliki image atau citra (brand) positif, didukung oleh Ketua Umum Partai credible dan populer, dan dukungan massa atau konstituen yang loyal dan signifikan jumlahnya.

Image positif tersebut seyogianya terbangun  di awal pendirian partai. Sehingga mampu menimbulkan sentimen positif dari publik untuk mempertimbangkan afiliasi politiknya. Harus dihindari, kehadiran suatu Parpol baru identik dengan image partai gurem, dan apalagi dikesankan akan menimbulkan dampak negatif. Misalnya, diasumsukan sebagai bagian atau malah menambah masalah dan beban. Bukan merupakan bagian dari ikhtiar memecahkan masalah yang kini dihadapi oleh masyarakat dan bangsa.

Ikhtiar itu saja tidak cukup, melainkan harus didukung berbagai modalitas. Antara lain, (a) modalitas manajerial yakni: kelengkapan dan kesolidan kepengurusan tingkat pusat hingga tingkat ranting, (b) modalitas sumber daya manusia dimana partai harus dikelola secara profesional, transparan dan akuntabel, (c) modalitas  jaringan (networking) kepengurusan partai internal maupun eksternal; dan (d) modalitas keterkaitan (linkadge) kepengurusan partai  dengan agensi pemilih formal maupun informal, dan lain sebagainya.

Sementara untuk dapat  meraih suara signifikan di Pemilu Serentak 2024 khususnya di Pileg, Parpol harus memiliki tingkat pengenalan (awarness) atau popularitas yang bagus di mata konstituen, dan disukai oleh masyarakat/pemilih (likeabilitas). Jika hal tersebut dipenuhi, baru kemudian Parpol baru boleh berharap memiliki peluang memiliki tingkat elektabilitas memadai. Yang muaranya berujung pemilih secara manifes dan ril, menyalurkan hak pilihnya kepada Parpol tersebut saat Pemilu digelar.

Last but not least adalah modalitas kapital atau dana/anggaran yang memadai. Dengan modalitas kapital memadai, segala program partai yang sudah direncanakan dan susun secara susah payah dapat dilaksanakan secara efektif dan maksimal. Tanpa modalitas kapital memadai, maka sangat mungkin program hanya akan menjadi catatan indah dan menarik untuk didiskusikan dan disosialisasikan, namun tidak dapat diwujudkan secara nyata.

SWOT

Dalam proses perencanaan strategi, dikenal dengan analisis SWOT (Strenghts/kekuatan, Weakneeses/kelemahan, Oportunities/peluang, dan Treaths/ancaman). Analisis kekuatan dimaksudkan untuk mengukur kekuatan internal partai. Analisis  kelemahan untuk menganalisis kelemahan internal partai. Analisis peluang untuk menganalisis peluang partai. Sementara analisis ancaman untuk menganalisis tantangan eksternal yang bakal dihadapi partai.

Dari analisis SWOT tersebut dikonseptualisasikan atau dirumuskan dalam grand design dan target maksimal maupun minimal yang hendak dicapai oleh partai, termasuk di dalamnya target perolehan suara/kursi. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah didesain peta jalan atau road map guna menuju atau mencapai target tersebut. Semua target tersebut direkomendasikan dilakukan secara terukur, baik secara kualitas maupun statistik elektoral. Serta secara berkala, target tersebut dievaluasi untuk dilakukan perbaikan.

Sebagai politisi kawakan dan berpengalaman, tentu sudah mafhum bahwa Parpol baru tidak bisa dikelola secara amatiran, mediaocare atau setengah-tengah. Melainkan harus dikelola dengan manajemen profesional. Selain itu, di era digital saat ini, Parpol harus dikelola dengan sentuhan teknologi multi media.  Bahkan  diperlukan Media Sosial yang didukung oleh para influenzer dan buzzer, yang tentu saja dalam aktivitasnya dilakukan dengan tetap mematuhi etika dan perataran perundangan terkait.

Ibarat pelari maraton, Parpol baru tidak bisa hanya berlari dengan kecepatan  1 jam untuk menempuh jarak 10 kilometer, misalnya. Melainkan harus lebih cepat dari itu. Hal ini disebabkan karena Parpol lawas dan terutama Parpol parlemen, startnya sudah lebih dahulu dan larinya sudah sangat cepat. Bahkan mungkin sudah mampu sampai di garis  finish kurang dari 30 menit untuk jarak tempuh 10 kilometer. Tanpa akselerasi dan terobosan program serta strategi kampanye yang ciamik yang membedakannya dengan Parpol lawas, sulit rasanya bagi Parpol baru bersaing di Pemilu Serentak 2024. []

Penulis: Achmad Fachrudin
Pendiri Literasi Demokrasi Indonesia

Berita Terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *