Pemerintahan

Menemu Sosok Pahlawan pada Lukisan Kun

Oleh: Dr. Jenderal (purn) H. Moeldoko

Saya mengenal pelukis yang juga dosen seni rupa Wayan Kun Adnyana, sejak acara stadium generale “Dialog Kebangsaan bersama Lembaga Ketahanan Nasional”, 2012 di Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar. Saya kala itu sebagai wakil gubernur Lembaga Ketahanan Nasional. Tentang Kun Adnyana, bagi masyarakat seni rupa Indonesia tentu telah mengenalnya dengan akrab, sosok yang tidak saja terampil menciptakan karya seni rupa, seperti lukisan kontemporer yang memikat, tetapi juga dikenal sebagai penulis sekaligus pemikir kebudayaan yang bernas. Pemikirannya sering dapat ditemui pada ulasan seni dan kebudayaan di media cetak nasional, seperti harian Media Indonesia dan Kompas.

Kun, yang merupakan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, beberapa waktu lalu, bersama 30-an seniman dan budayawan berkesempatan diterima Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta. Kala itu, presiden mendialogkan tentang nilai-nilai kebudayaan sebagai salah satu fondasi pembangunan Bangsa. Presiden berharap budayawan (juga seniman) menjadi garda depan dalam upaya membumikan nilai-nilai kebudayaan tersebut untuk menjaga persatuan dan kesatuan Bangsa.  Kun tentu menjadi bagian dari sekian banyak pelaku seni di tanah air yang telah menghiasi perjalanan bangsa ini dengan karya-karya yang indah sekaligus menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban itu.

Pada pameran tunggalnya di Museum Neka kali ini, seperti diceritakan Kun, bahwa karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil dari penelitian yang intensif selama dua tahun tentang relief Yeh Pulu, berlokasi di Desa Bedulu, Gianyar, Bali. Kun mengungkap tentang sosok-sosok pahlawan dunia sehari-hari. Pahatan relief Yeh Pulu, memahatkan sosok pedagang sedang memikul keliling tempayan dagangan, figur petani dengan pacul, juga penunggang kuda yang hebat, dan termasuk pula pemburu sedang memikul hasil buruan, merupakan sederet pose keseharian yang mengidentikkan dengan perjuangan hidup yang keras. Pahatan tersebut seperti menerangkan, bahwa perjuangan hidup adalah kewajiban atau karma yang mesti dituntaskan dengan kerja tulus, serta dengan pengabdian sampai akhir hayat.

Menuju/Menjadi Sosok

mus4Konsep kepahlawanan dunia sehari-hari dari orang-orang biasa, sesungguhnya dapat dibaca sebagai konsep kemandirian sekaligus berdaya dalam meraih cita-cita hidup. Konsep kepahlawanan menjadi bingkai kesahajaan, ia bisa menyosok pada figur siapapun. Ia yang bertanggungjwab pada hidupnya dengan menjunjung nilai-nila kemanusiaan, karena itu dia pantas disebut pahlawan. Barangkali beranjak dari konsep kepahlawanan seperti itu, tema pameran tunggal Kun Adnyana kali ini diberi tajuk: Titi Wangsa; hakekat/jalan menuju/menjadi sosok (pahlawan sehari-hari) itu. Sehingga kepahlawanan bukan lagi hanya entitas perilaku manusia super yang hanya hadir/eksis pada momen tertentu saja, melainkan mesti terjaga di sepanjang jalan usia.

mus3Saudara Kun mengungkap kisah atau adegan kerja kepahlawanan relief Yeh Pulu dengan pendekatan artistik seni lukis yang unik dan berkarakter kuat. Warna-warna seperti membalur pose-pose sosok pahlawan itu secara bebas. Demikian juga kerumitan garis membentuk plastis atau anatomi bentuk sangat khas. Terlihat ada jejak kearifan artistik seni lukis Bali gaya Ubud, atau gaya Batuan, selain juga kelincahan pengembangan baru di sana-sini.

Lukisannya juga berangkat dari konsep inter-teks, yakni secara sadar memasukkan idiom-idiom budaya populer ke dalam karya. Semisal, keluwesan memadukan sosok pahlawan super (superman, batman, dan lain-lain) dengan figur pahlawan yang ada di pahatan relief Yeh Pulu, menjadikan karyanya menggugah memori visual masa kini. Selain teks, karya Kun juga menunjuk pada paduan berbagai memori budaya. Saya yang tumbuh dan dibesarkan dengan memori wayang, memandang lukisan Kun Adnyana, seperti diajak berselancar ke ruang-ruang berkelindan objek budaya, baik itu tradisi, modern, maupun budaya pop kontemporer.

Pada karya seni yang memikat, sebuah tema dapat dihadirkan dalam bahasa visual yang sublim. Keunikan artistik mampu melenyapkan kesan tema yang jargonistik. Tema tentang kepahlawanan, tentu sebuah tema besar, yang justru tidak mudah diungkap begitu saja dalam karya seni. Kalau tidak memiliki kecapakan tangan dan kepekaan rasa, malah bisa tergelincir pada karya ilustratif yang juga jargonistik. Kelebihan Kun, justru dapat menerjemahkan konsep kepahlawanan, menjadi bahasa visual artistik yang mengena; padu antara keunikan visual dengan upaya memaknai konsep kepahlawanan tersebut, menjadi kepahlawanan orang-orang biasa, dalam laku keseharian.

mus2Memang ada beberapa hal menyangkut kekurangsempurnaan dari karya Kun. Tentu seiring intensitas proses yang akan terus dilakukan, harapan-harapan baru dalam pencapaiannya senantiasa akan tercapai. Sehingga gema keberadaan karyanya akan semakin meluas hingga ke panggung internasional.

Saya tentu merasa terhormat dan berbahagia dapat hadir meresmikan pembukaan pameran tunggal Kun Adnyana di Museum Neka ini. Harapannya karya-karya yang ditampilkan dapat mewarnai khasanah seni rupa Indonesia, dan memberi inspirasi.

Dr. Jenderal (Purn) H. Moeldoko, pencinta seni, Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close