Mengelola Kritik dengan Baik

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Pujian dan kritikan, dua sisi kehidupan yang saling berkelindan. Banyak orang lupa diri karena pujian. Tak jarang ada orang yang mulia hidupnya karena dihujani kritikan.

Imam Syafi’i Rahimahullah berpesan, ucapan orang tentang dirimu itu seperti batu besar. Engkau letakkan batu besar itu ke pundakmu, maka yang hancur justru tulangmu, patah. Atau batu besar itu engkau jadikan sebagai fondasi bangunan, maka engkau akan tinggi dan mendapatkan kemenangan.

Muat Lebih

Kritikan atau bahkan hinaan orang pada diri kita tak bisa dihindari. Jangan berkelit dari kritikan. Hadapi dengan cara bijak. Cara kita merespons kritikan dapat mencerminkan kualitas diri kita. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengelola kritikan agar membuat kehidupan kita makin produktif.

Pertama, bersabarlah menghadapi kritikan. Sesungguhnya, kita akan mendapatkan pahala karena kesabaran menghadapi kritikan bahkan cercaan dari orang lain. Kesabaran adalah sumber kemu liaan, diam adalah sumber kekuatan untuk mengalahkan musuh, dan memaaafkan adalah sumber dan tangga untuk mencapai pahala dan kemuliaan (Dr Aidh al-Qarni, 2005).

Karena hakikatnya, kritikan kerap ditujukan pada orang-orang yang memiliki kualitas kehidupan yang tinggi. Semakin pedas kritikan yang kita terima, semakin tinggi pula kualitas hidup kita.

Kedua, bersyukurlah menerima kritikan. Mengapa bersyukur? Kadang kita bisa menemukan kelemahan diri kita dari kritikan orang lain. Simpul terkuat diri kita terletak pada simpul terlemahnya. Jika kita dikritik sebagai orang tak disiplin, ubahlah sikap hidup kita agar menjadi orang yang disiplin. Jika kita dikritik sebagai pembohong, perbaiki diri kita agar bisa jadi orang berintegritas. Jika perbaikan diri dilakukan, alhasil kelemahan hidup kita berubah menjadi kekuatan hidup kita.

Ketiga, berterimakasihlah kepada para pengkritik. Jalin silaturahim dengan mereka agar harmoni kehidupan terjaga. Jangan bungkam kritik karena itu berarti kita merasa paling benar. Padahal, tak ada manusia yang sempurna karena bersikap benar selamanya atau bahkan berbuat sa lah sepanjang hidupnya. Kritikan akan selalu menyadarkan arti pentingnya membenahi kekurangan diri.

Berubahlah karena Allah SWT lewat kritikan orang lain karena itu pasti kebaikan. Tak ada paksaan untuk memperbaiki diri. Tak akan pernah jadi nista orang yang mau membenahi diri untuk jadi baik. Perbaikilah diri secara konsisten. Saat hidup kita makin baik dari waktu ke waktu dan mengakhiri hidup husnul khatimah, itulah kemenangan sejati. Wallahu’alam bishawab. [rif]

Sumber : Republika

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *