Mengenal Hukuman Adat Bagi Pelaku Londo Iha ‘Kawin Lari’ dalam Masyarakat Bima

  • Whatsapp
Salah sartu tradisi gotong royong memindahkan rumah oleh masyarakat Bima. Foto: Net

INDOPOLITIKA.COM – Londo Iha (Kawin Lari) dalam hukum adat masyarakat Mbojo (Bima), Nusa Tenggara Barat adalah sebuah aib besar bagi keluarga. Imbasnya, seluruh keluarga dari pelaku Londo Iha ini meski starata sosialnya tinggi, tetap akan menerima hukuman adat ini.

Salah satu peneliti dari Institut Agama Islam Muhammadiyah Bima, Masitah mengemukakan, salah satu fakta penelitian yang dilakukannya di salah satu desa Nitu, pelaku Londo Iha di desa tersebut sangat buruk dan umumnya berpendidikan rendah.

Baca Juga:

Salah satu narasumber Masita dalam penelitian adalah seorang Lebe (Imam masjid) di kelurahan Nitu bernama H Ahmad H Talib. Dari hasil wawancara, H Ahmad mengatakan, bahwa perempuan di Desa Nitu, mulai dari kecil hingga dewasa dibekali dengan ilmu agama yang kuat seperti mereka diajarin ngaji aka guru ngajinya (belajar mengaji di ustadznya), diajarin sopan santun dari kecil seperti santabe (permisi jika lewat di depan orang), pengenalan ntau dou dan ntau ndai (milik sendiri dan orang lain sehingga tahu mana yang halal dan mana yang haram).

“Diajari hidup mori sama di kampo ra mporo (hidup bersama di tengah masyarakat), sampai pada perbuatan aina nae loko ulu (hamil di luar nikah), sehingga anak-anak sedini mungkin sudah dibekali dengan nggahi ra ruku ra rahi ma taho (tingkah laku dan perbuatan yang baik), sehingga ada rasa maja labo dahu (takut dan malu) dan akhirnya mengurangi  salah satu perbuatan tidak baik yakni londo iha (kawin lari) tersebut,” cerita Masita menirukan obrolanya dengan narasumber.

“Londo Iha pada masyarakat Nitu adalah benar-benar cara menikah yang sangat buruk. Londo Iha membuat harkat dan martabat perempuan menjadi rendah bahkan seolah diinjak. Londo Iha di desa ini (Nitu) tidak menjaga kehormatan, wibawa dan harkat martaba kaum perempuan,” jelasnya.

Padahal kata dia, kaum perempuan kebanyakan di kampung tersebut posisinya cukup tinggi starata sosialnya. Mereka bisa saja berada di tempatan rumah paling tinggi ‘TAJA’ (loteng/rumah panggung).

Dalam penelitian yang didukung oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Pendidikan Islam Kementerian Agama RI itu, peneliti juga mengungkapkan, ketika ada keluarga yang melakukan londo iha maka semua masyarakat tidak akan ikut terlibat pada acara kegiatan akad nikah dan pesta pernikahan.

“Mereka hanya lewat saja jika bertetangga, atau menonton saja dari rumah mereka, meraka tidak akan ikut terlibat dalam hal ikut memasak untuk kegiatan acara tersebut. Selain itu, tamu dari keluarga yang laki-laki yang datang pun tidak akan dilayani dengan baik oleh keluarga perempuan bahkan air minum pun tidak diberikan apalagi melayani makanan, minuman serta melayani tempat duduk tamu yang datang,” jelasnya.[asa]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *