Internasional

Menhan Iran: PM Israel Sengaja Ciptakan Kondisi Merusak Ekonomi

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mempertahankan ketegangan di Timur Tengah untuk rusak ekonomi Iran. (Foto: AFP).

Teheran: Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mempertahankan ketegangan di Timur Tengah untuk menciptakan dampak ekonomi terhadap Iran.
 
Pernyataan tersebut dimuat dalam wawancaranya dengan TV Al-Mayadeen Lebanon, yang berasosiasi dengan organisasi Hizbullah.
 
"Saya pikir Netanyahu mempertahankan ketegangan di kawasan Timur Tengah untuk menciptakan dampak ekonomi pada Iran," kata Hatami kepada Al-Mayadeen, seperti dilansir dari Channel 10 News, Selasa 28 Agustus 2018.
 
Pernyataan Hatami juga mengacu pada kemungkinan serangan Israel terhadap pasukan Iran di Suriah. Hatami mengatakan, "Berdasarkan kemampuan saya tentang kemampuan pertahanan udara Iran, saya pikir ancaman Netanyahu untuk menyerang pasukan Iran di Suriah jauh dari kenyataan."
 
Selain itu, Hatami membahas kehadiran Iran di Suriah dan mengatakan bahwa itu adalah urusan kedua negara, dan tidak ada negara ketiga yang dapat ikut campur dalam masalah ini. Komentar tersebut dilontarkan setelah pertanyaan mengenai campur tangan Rusia atas penarikan pasukan Iran di Suriah.
 
Ketika Hatami ditanya mengenai peningkatan sistem rudal tentara Suriah yang merupakan bagian dari rehabilitasi infrastruktur militer Suriah, menurutnya Iran akan memberikan bantuan yang diminta oleh Suriah berdasarkan perjanjian.
 
"Pemerintah Suriah memiliki hak untuk menanggapi setiap serangan, seperti apa yang terjadi di waktu yang lalu. Para sekutu Suriah bersiap untuk menanggapi tiap serangan," jelas Hatami.
 
"Suriah telah diserang di masa lalu, tapi serangan itu tidak memberikan pengaruh signifikan. Pemerintah Suriah saat ini berada dalam posisi yang baik, tidak memungkinkan siapapun untuk menyerangnya tanpa tanggapan," tegasnya.
 
Pada Senin 27 Agustus 2018, Iran dan Suriah menandatangi perjanjian kerja sama dengan pemerintahan Presiden Suriah Bashar Al-Assad.
 
"Suriah sedang melewati fase krisis ke fase rekontruksi dan sebagai hasilnya, perjanjian yang ditandatangani akan menentukan wilayah keberadaan, kontribusi dan kerjasama antara Teheran dan Damaskus," kata Hatami, menurut laporan Kantor Berita Mehr.
 
Iran telah membantu Assad dengan bantuan keuangan dan penasehat militer sejak dimulainya perang saudara Suriah pada tahun 2011. Diawal perang saudara Suriah, mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dilaporkan secara pribadi menyetujui pengiriman petugas Garda Revolusi Iran ke Suriah untuk berperang bersama pasukan Assad.
 
Ali Akbar Velayati, ajudan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa Iran akan menarik penasehat militernya dari Suriah dan Irak jika pemerintah menginginkannya.
 
Israel menunjukan keprihatinan atas pengaruh Iran yang semakin meningkat di Suriah. Sementara Amerika Serikat telah menekan agar Iran menarik para tentaranya dari Suriah.
 
Para pejabat Pemerintah Israel telah menjelaskan bahwa Israel tidak akan menerima pasukan militer Iran di Suriah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengadakan beberapa pertemuan untuk membahas masalah tersebut.
 
Melalui pernyataan resmi Amerika Serikat dikatakan bahwa Presiden Donald Trump dan Putin pada setuju bahwa Iran harus keluar dari Suriah. Hal ini disampaikan pada saat keduanya bertemu di Helsinki, Finlandia, Juli lalu. (Khalisha Firsada)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close