Menimbang Kegiatan Pembelajaran Tatap Muka di Tengah Kondisi Pandemi Covid-19 Hari Ini

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Dilansir dari laman covid19.go.id, kasus positif Covid-19 di Indonesia terus mengalami penurunan. Kabar baik ini pun memunculkan banyak pertanyaan baru. Salah satunya, kapankah kebijakan PPKM berakhir dan akankah semua sekolah diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka?

Kasus Covid-19 RI Terus Menurun
Menurut data pemerintah, per 16 September 2021 kemarin, angka kesembuhan pasien Covid-19 mencapai 14.633 orang. Jika diakumulasi, angka kesembuhan nasional telah menembus angka 3,9 juta orang atau 94,9% dari total orang yang terkonfirmasi positif.
Tidak hanya itu saja. Total kasus positif harian juga mengalami penurunan yang lumayan. Jumlah pasien yang membutuhkan perawatan medis berkurang dari 11.725 orang menjadi 73.238 orang. Itu artinya ada penurunan sebesar 1,8% dalam satu hari.

Berita Lainnya

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, Siti Nadia menyebutkan, turunnya kasus covid-19 di Indonesia disinyalir oleh beberapa hal. Salah satunya yaitu ketatnya kebijakan PPKM yang diberlakukan di Jawa dan Bali sejak pertengahan Juli 2021 lalu.

Selain itu, program vaksinasi Covid-19 di berbagai daerah juga mulai digalakkan secara gencar. Data secara nasional menyebutkan, jumlah penerima vaksin dosis 1 kini telah mencapai 76 juta orang Sedangkan penerima vaksin dosis 2 mencapai 43 juta orang.

Bagaimana Nasib Para Pelajar?

Kabar terbaru penanganan Covid-19 ini pun membawa angin segar, termasuk di kalangan pelajar. Pandemi yang berlangsung 1,5 tahun lebih telah memaksa sejumlah sekolah tutup. Lantas, siapkah pemerintah memberlakukan pembelajaran tatap muka di semua daerah sekarang juga?
Hingga saat ini, pembelajaran tatap muka di Indonesia belum dilakukan secara serentak di semua daerah mengikuti Instruksi Menteri Dalam Negeri. Instruksi nomor 35 tahun 2021 itu mengatur pembelajaran tatap muka hanya boleh dilakukan di daerah dengan level PPKM 2 dan 3.

Sebenarnya, tujuan pemerintah melarang sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran tatap muka supaya sekolah tidak menjadi klaster baru penyebaran covid-19. Namun, pada kenyataannya hal itu tak sejalan dengan kepatuhan masyarakat, khususnya para pelajar itu sendiri.
Meski diberlakukan pembelajaran di rumah, tak jarang para pelajar yang keluar riwa-riwi untuk sekadar mengerjakan tugas sekolah atau malah bermain. Maklum, para pelajar mengalami kejenuhan karena tidak bisa bertemu teman-temannya di sekolah. Mereka pun kesulitan mempelajari materi yang hanya disampaikan secara online.

Kendurnya kepatuhan para pelajar ini juga didukung oleh sejumlah kafe, mall, dan objek wisata yang tetap buka selama PPKM. Para pelajar pun berbondong-bondong ke sana untuk melepas penat bersama teman atau keluarga. Kalau sudah begini, worth it kah larangan pembelajaran tatap muka?

Para orangtua pun mengeluh, mengapa sekolah tidak segera buka, sementara banyak tempat wisata bebas dibuka. Siswa yang biasanya sekolah dari pagi sampai siang, kini malah malas-malasan mengikuti sekolah daring. Bahkan, mereka lebih banyak bermain untuk menghilangkan rasa bosan.
Melihat kondisi itu, sudah waktunya pembelajaran tatap muka di semua daerah menjadi prioritas utama. Selain meningkatkan proses pembelajaran akademis, sekolah tatap muka juga dapat meningkatkan kemampuan sosial siswa. Dan yang terpenting, mencegah siswa agar tidak keluyuran.

Langkah ini sejalan dengan data Komisi Perlindungan Anak (KPAI) tentang kesiapan sekolah dalam melaksanakan pembelajaran tatap muka. Sebanyak 79,54% dari 42 sekolah yang melakukan uji coba menyatakan telah siap menggelar pembelajaran sekolah di tahun 2021 ini.

Menurut pakar Epidemiologi, Dicky Budiman, risiko penularan covid-19 pada anak memang ada. Namun proporsinya tidak sebesar pada lansia. Sebab, kekebalan tubuh anak lebih baik daripada orang dewasa. Tentu fakta ini semakin menambah optimisme sekolah tatap muka di semua daerah.

Trik Pembelajaran Tatap Muka

Bagaimanapun, kita tak boleh gegabah dalam menghadapi pandemi, terutama menjelang datangnya gelombang ketiga mendatang. Untuk itu, wacana sekolah tatap muka di semua daerah tentu harus dibarengi dengan sejumlah aturan ketat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya:

Sesuaikan Kondisi Terkini Setiap Daerah

Kasus Covid-19 antar daerah tentu berbeda-beda. Mulai dari angka penyebaran hingga upaya-upaya penanganan yang telah dilakukan. Misalnya saja, jumlah orang terkonfirmasi Covid-19 di sejumlah daerah sangatlah kecil, namun di kota tertentu justru sangat besar.
Pelaksanaan vaksinasi juga belum merata di setiap daerah, khususnya di wilayah pelosok yang jauh dari perkotaan. Belum lagi soal kesadaran mematuhi protokol kesehatan. Kebanyakan orang desa masih sangat awam dan enggan menjalankannya jika tidak diperintah terlebih dahulu.
Melihat semua itu, kebijakan pembelajaran tatap muka di semua sekolah, lagi-lagi perlu menyesuaikan kondisi terkini setiap daerah. Tidak hanya memperhatikan jumlah kasus positif, tapi juga perkembangan vaksinasi dan kesadaran masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan.

Budayakan Protokol Kesehatan
Untuk saat ini, kesadaran pentingnya menjalankan protokol kesehatan semestinya bukan lagi menjadi perintah atau himbauan. Tapi sudah menjadi budaya dan kebiasaan yang tertanam di masing-masing individu. Hingga akhirnya membudaya di setiap kelompok dan komunitas masyarakat.
Dalam pembelajaran tatap muka, bukan hanya siswa dan guru yang wajib mematuhi protokol kesehatan.

Orangtua hingga pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar sekolah juga wajib membudayakan protokol ini. Mulai dari kebiasaan cuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak.
Vaksinasi untuk Semua Siswa
Untuk mendukung langkah 1 dan 2, program vaksinasi kini perlu diprioritaskan untuk semua siswa. Sehingga para siswa juga dapat mengurangi risiko penularan covid-19. Tentunya, program ini sukses terlaksana dengan kerjasama yang solid antara sekolah, dinas kesehatan, dan pemerintah daerah.

Jadi, perlukah pembelajaran tatap muka di tengah pandemi sekarang? Tentu sangat perlu. Semua tergantung dari kesiapan masing-masing orang di lingkungan tempat tinggal kita. Namun kita bisa mengupayakannya secara lebih cepat dengan 3 trik di atas.

 

Artikel oleh: Suci Nurmalisa

Berita terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *