Daerah

Menjelang Masuk Tahun Politik 2019, Mustofa Widjaja: Mari Bersama-sama Berantas Hoaks

Batam – Menjelang masuk tahun politik 2019 mendatang, gesekan antar masyarakat bisa saja terjadi karena merebaknya berita bohong (hoaks). Mengingat tahun 2019 merupakan hajat besar rakyat Indonesia dalam pesta demokrasi politik yakni Pemilihan Legislatif (DPRD/DPR RI), DPD dan Pemilihan Presiden (Pilpres).

Menanggapi hal tersebut, Calon Anggota DPD RI Periode 2019-2024 Daerah Pemilihan (Dapil) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Mustofa Widjaja, mengingatkan seluruh warga Kepri untuk tidak terpengaruh dengan hoaks. Menurutnya, penyebaran berita hoaks melalui media sosial akan semakin massif menjelang tahun politik.

“Penyebaran berita hoaks itu sudah terjadi pada Pilkada serentak di tahun 2018 ini. Sudah barang tentu di tahun 2019 sebagai tahun politik ini juga akan semakin menggeliat isu dan kabar hoaks tersebut, warga harus mewaspadai itu,” kata Mustofa Widjaja kepada wartawan di kawasan Batam Center, Selasa (24/7).

Oleh sebab itu, mantan Kepala BP Batam ini meminta agar pemerintah melalui Kementerian Kominfo dan lembaga terkait lainnya untuk lebih aktif dan gencar melakukan sosialisasi anti hoaks  ke masyarakat. Selain itu, partisipasi publik pun menjadi sangat penting dalam pemberantasan hoaks.

“Sosialisasi perlu ditingkatkan, terutama kepada masyarakat umum di daerah, kampus-kampus, sekolah-sekolah dan lembaga masyarakat, seperti diamanahkan dalam UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Masyarakat pun harus berpartisipasi untuk pemberantasan berita hoaks, karena ini bukan hanya tugas pemerintah,” tegasnya.

Anggota dewan pakar ICMI Pusat ini menerangkan, bahwa pemberitaan hoaks bisa mengakibatkan kecemasan, kebencian dan permusuhan antar warga.

“Jika sumber berita itu tidak jelas, medianya tidak terverifikasi, tak berimbang, dan cenderung menyudutkan pihak tertentu, sudah pasti itu hoaks yang harus diberantas,” terangnya.

Penyebaran ujaran kebencian maupun berita-berita hoax, sambung Mustofa, tak lain bertujuan untuk menurunkan derajat dan reputasi seseorang.

“Ini bertujuan untuk mengajak orang lain membenci figur yang mereka dibicarakan. Mari bersama-bersama berantas hoaks dan waspada terhadap isu yang akan memecah belah persatuan,” pungkas Mustofa. (*)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close