Menko Polhukam Mahfud MD Sindir Penceramah “Karbitan” di Televisi?

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyindir dai atau penceramah yang naik popularitasnya alias karbitan karena tampil di televisi. Padahal semestinya dai dalam ceramahnya bisa menyampaikan ilmu agama dan tidak menyesatkan.

“Ini orang dikarbit hanya karena bisa ngelucu, bisa cerita horor, bisa mendramatisir masalah lalu dijadikan sebagai dai,” kata Mahfud di Jakarta, Jumat (6/3/2020).  

Bacaan Lainnya

Mahfud juga menyindir acara-acara keagamaan  di TV yang menurutnya tak sesuai. Seperti pengisi acara yang tak bisa membaca Al Quran, Al Quran diterjemahkan dengan lucu, ada juga disertai musik dangdut. “Ini TV apa? Soalnya Al Quran dijadikan dagelan, dan itu bertahun-tahun di TV,” ujarnya.

Mahfud juga mempertanyakan pemilih tema dalam acara keagamaan di stasiun-stasiun televisi itu. Pasalnya, dia menilai justru yang terjadi isi ceramahnya cenderung menyesatkan dibanding mencerahkan. “Sembarang orang disuruh ngomong, kasih judul ini salah lagi, baca ayat salah, makhraj-nya salah,” katanya.

Oleh karena itu, Mahfud mengatakan sudah seharusnya MUI dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bekerja sama mengundang pelaku penyiaran di televisi guna membicarakan hal tersebut. Itu perlu dilakukan agar tak ada lagi pengisi acara keagamaan di televisi yang justru serampangan berbicara di depan kamera.

Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Cholil Nafis mengatakan pihaknya tak bisa memberikan sanksi kepada dai yang berdakwah di televisi, dan dianggap isinya kontroversial.

Cholil menerangkan MUI hanya akan memberikan pembinaan dan peringatan mengenai isi dakwah dari dai tersebut agar sesuai dengan kaidah dan ajaran agama. “Ketika ada laporan kita akan lakukan tabayyun, verifikasi, dan kalau memang itu salah, kita akan beri peringatan. Kalau (maksud ceramah itu) baik, kita akan jelaskan kesalahpahaman dari dai itu ke masyarakat,” kata Cholil di Jakarta, Kamis.

Ia menyatakan MUI dan sejumlah dai yang sering tampil di televisi juga telah meneken pakta integritas tentang penyampaian dakwah. Masyarakat pun bisa melaporkan kepada MUI jika menemukan ada dai yang dianggap menyampaikan dakwah yang melenceng dari pakta tersebut.

MUI melakukan standarisasi kompetensi kepada sejumlah dai yang sering tampil di televisi. Standarisasi ini merupakan yang ketiga kalinya dilakukan MUI.

Menurut Cholil, standarisasi kali ini sengaja diperuntukkan kepada para dai yang biasa berdakwah di layar kaca. Sementara, dua kegiatan standarisasi sebelumnya ditujukan kepada organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan di bawah MUI.

“Maka dengan mengundang (sejumlah dai) ke sini, kita satukan visi, persepsi itu. Kita menyamakan paradigma dalam berdakwah,” jelas Cholil.

Meskipun demikian, Cholil menegaskan, MUI tidak akan melarang para dai yang tidak hadir dalam acara kali ini untuk berdakwah di televisi. Dia menyatakan standarisasi ini hanya bertujuan meningkatkan mutu pengetahuan dari para dai.

“Ulama-ulama ini kan jarang dengerin, selalu ceramah kan, mendengarkan ceramah jarang. Dengan cara begini kita bisa bersama-sama saling mengisi, saling mendengarkan,” kata dia.

Sementara itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta para pengurus di daerah dan pimpinan pondok pesantren untuk membaca doa qunut nazilah dan doa tolak bala guna mencegah penyebaran virus corona (covid-19).

Dalam surat instruksi dan imbauan dari Staf Sekjen Fariz Alniezar, PBNU menyatakan dua doa itu penting diamalkan untuk meminta keselamatan bagi bangsa Indonesia. “Berkaitan dengan bencana tersebut, PBNU menginstruksikan kepada seluruh pengurus wilayah, cabang, lembaga, Badan Otonom Nahdlatul Ulama dan pondok pesantren di semua tingkatan agar membaca qunut nazilah dan meningkatkan amalan dan doa tolak bala agar bangsa Indonesia terhindar dari musibah dan bencana,” isi surat tersebut, Selasa (3/3/2020) lalu.[ab]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *