Menpora Imam Nachrowi Disebut Lakukan Pemufakatan Jahat

  • Whatsapp
Sidang Tipikor kasus dana hibah KONI, di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis malam (15/8/2019)

INDOPOLITIKA.Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi disebut telah melakukan pemufakatan jahat dengan asisten pribadinya, Miftahul Ulum. Hal itu diungkapkan Jaksa KPK saat membacakan surat tuntutan dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (15/8/2019), untuk Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Mulyana.

Tuntutan itu juga disampaikan kepada staf Kemenpora Adhi Purnomo dan Eko Triyanta yang duduk sebagai terdakwa dalam sidang itu. Jaksa yakin ketiga terdakwa bersalah menerima suap dari Ending Fuad Hamidy.

Baca Juga:

Jaksa menjelaskan dalam fakta persidangan terungkap peran Ulum agar dana hibah KONI dapat dicairkan dengan syarat ada imbalan uang yang telah disepakati antara Ulum dengan Hamidy, yaitu fee 15 sampai 19 persen dari anggaran hibah KONI yang dicairkan.

Jaksa menyebut Imam mengetahui soal penerimaan duit Rp 11,5 miliar dari Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy kepada Ulum.

“Sebagian realisasi besaran commitment fee terdakwa (Hamidy) dengan Johnny secara bertahap memberikan sejumlah uang seluruhnya berjumlah Rp 11,5 miliar yang diberikan terdakwa dan Johny kepada saksi Miftahul Ulum selaku aspri Menpora atau pun melalui Arif Susanto selaku orang suruhan Miftahul Ulum,” kata Jaksa saat membacakan surat tuntutan, Kamis (15/8)

Pemberian Rp 11,5 miliar itu dilakukan bertahap dari Hamidy kepada Ulum atau melalui orang suruhan Ulum bernama Arif Susanto. Berikut rinciannya:

* Bulan Februari 2018, Hamidy menyerahkan Rp 500 juta ke Ulum di ruang kerja Hamidy;
* Bulan Maret, Hamidy menyerahkan Rp 2 miliar di Gedung KONI pusat;
* Bulan Mei 2018, Hamidy menyerahkan Rp 3 miliar kepada Ulum di ruang kerja Hamidy;
* Sebelum lebaran 2018, Hamidy menyerahkan Rp 3 miliar–ditukar dengan mata uang asing–kepada Ulum di lapangan tenis Kemenpora; dan
* Bulan Juni 2018, Hamidy menyerahkan Rp 3 miliar kepada Arif Susanto;

Diketahui, Ketiganya pernah membantah suap ini saat bersaksi di persidangan. Namun, jaksa menilai kesaksian ketiganya patut diurungkan sebab tak disertai bukti yang kuat serta bertentangan dengan kesaksian Kepala Bagian Keuangan KONI Eny Purnawati. (DMS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *