Miliki Tiga Wajah, Menteri Yasonna tak Bisa Memisahkannya

  • Whatsapp
Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly

INDOPOLITIKA.COM – Berwacana atas stigma negatif Tanjung Priok sebagai daerah penghasil kriminalitas yang menimbulkan kemarahan masyarakat, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly didesak mengeluarkan permintaan maaf.

Syahganda Nainggolan, pengamat politik Sabang Merauke Circle menerangkan, Yasonna memiliki tiga wajah yaitu sebagai menteri yang mewakili negara, petinggi PDIP, dan sebagai professor. Yasonna ditekankannya tidak dapat memilah-milah dimensi dirinya kapan semaunya. Karena, ketika Yasonna menjadi menteri, maka tanggungjawab utama dia adalah sebagai wakil negara.

Berita Lainnya

“Dalam konteks pemimpin negeri, atau elit bangsa, Yasonna tidak bisa menguraikan sebuah komparasi yang membangun stigma jelek pada sebuah komunitas maupun masyarakat,” tegas Syahganda melalui keterangannya, Kamis (23/1/2020).

“Seorang menteri.Seorang penguasa bukanlah pembuat wacana, melainkan bertugas memecahkan masalah,” timpalnya.

Dalam kesempatan yang sama Syahganda menguraikan tanggungjawab seorang menteri dalam kontek kriminalitas di sebuah daerah adalah memastikan akurasi data, mencari penyebab dan membuat program atau agenda aksi sesuai bidangnya.

“Dalam rekomendasi kebijakan sosial, misalnya, bisa saja pemerintah membangun sebuah daerah hitam, seperti komplek prostitusi dan judi, ataupun perkampungan pemakai narkoba,  yang dapat dilakukan demi melokalisasi persoalan sosial agar tidak menjalar ke berbagai daerah. Atau langsung pada kebijakan pengentasan kriminalitas,” jelas Syahganda.

“Sebagai Menkumham, Yasonna dapat saja melakukan pengentasan kriminalitas itu melalui penegakan hukum, seperti memberantas mafia peradilan, memberikan akses kemudahan perkara dan bantuan hukum bagi orang-orang miskin, dan lalu dapat bekerjasama dengan pemerintahan daerah dalam mengentaskan kemiskinan serta kebodohan di sebuah kota,” lanjutnya.

Pun sebagai professor yang sedang menyampaikan pandangan teori kemiskinan, maka soal Tanjung Priok ini sepatutnya tidak disampaikan hingga memancing kemarahan. Syahganda mengingatkan, kejahatan dalam statisktik kriminalitas yang ditampilkan BPS hampir tidak menampilkan soal korupsi, melainkan hal-hal seperti pencurian, pembunuhan, begal motor, perampokan, pemerkosaan, dan narkotika.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *