Miris, Paus Kepala Melon yang Sempat Dibonceng Warga Bima Naik Motor Mati, Warga: Kasihan  

  • Whatsapp
Puas kepala melon yang sempat dibawa pulang warga Bima, mati. Foto: Foto: Tangkapan layar @mbojoinside.id

INDOPOLITIKA.COM – Salah satu mamalia laut yang dilindungi, Paus Kepala Melon yang sempat dibawa pulang warga Bima dengan motor sebelumnya, diketahui sudah mati.

Hal itu diketahui dari update unggahan akun instagram @mbojoinside, Minggu, (12/9/2021). “Update Lumba2. Informasi terakhir lumba2 yang terdampar di pantai Ni’u (Batas Kota Bima) yang di bawa pulang oleh 2 pemuda menggunakan sepeda motor kemarin kondisinya sudah mati,” tulis akun tersebut, seperti dikutip indopolitika.com, Senin, (13/9/2021).

Berita Lainnya

Kondisi mamalia laut yang sudah mati tersebut menjadi tontonan warga setempat. Nampak dalam video, sejumlah anak-anak meraba-raba ikan yang dibiarkan tergeletak di tanah itu. Ada juga yang bilang kasihan. “Jangan digituin, kasihan,”.

Sementara itu, unggahan tersebut pun banjir komentar warganet. Ada yang mengatakan, aksi dua orang sebelumnya yang memilih membawa pulang ikan tersebut merusak citra Bima.

“Nama Bima jadi tercoreng parah, vidio kemarin tersebar di semua akun”. Kesebar juga di beberapa platform lain, malu,” kata salah seorang mengomentari unggahan tersebut.

“Cingi canga (keterlaluan), bune ku da made kai na wa,a wici rerona kai honda ari lua (gimana ga mati, ikanya dibawa wari-wiri pakai motor)…mestinya kan itu di lepas kembali k dalam laut,” (emoji sedih).

“Ya Allah kasihan amat lumba2 nya mereka pengen hidup kaya kita,” emoji nangis.

Diberitakan sebelumnya, seekor mamalia laut yang dilindungi terdampar di salah satu pantai di Kota Bima, belum lama ini menjadi buah bibir masyarakat setempat. Mirisnya, paus kepala melon yang memiliki nama latin Peponocephala electra malah dibawa pulang warga dengan sepeda motor.

Video warga membonceng paus kepala melon itupun viral di media sosial setelah diunggah akun instagram @mbojoinside.

“Kpd YTH Bupati, Pemda, Aparatur Daerah Kota Bima – NTB. Mohon ini ditindak lanjuti kasus terdamparnya mamalia laut yang dilindungi. Menurut info mamalia laut ini terdampar di batas Kota Bima NTB siang tadi, mohon dilepas kembali. Kasian,” tulis akun tersebut memberikan keterangan pada narasi video yang diunggah.

Kronologi Terdamparnya Mamalia Dilindungi versi BKSDA NTB

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat, Joko Iswanto, mengutip kicknews.today membenarkan peristiwa terdamparnya lumba-lumba di Bima NTB. Saat diangkut warga menggunakan sepeda motor, sudah dalam kondisi mati.

Dalam rilis tertulisnya, BKSDA NTB menyampaikan pada Sabtu tanggal 11 September 2021, telah beredar secara luas berita dan video tentang lumba-lumba yang diangkut dengan sepeda motor di media sosial.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA NTB) melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Bima, segera melakukan penelusuran tentang berita tersebut.

Kata Joko, berdasarkan keterangan Bambang Dwidarto, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Bima, petugas SKW III memperoleh informasi, peristiwa tersebut terjadi di Desa Panda, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, NTB.

saat itu, menurut keterangan Bambang, sesuai dengan informasi dari masyarakat Desa Panda, lumba-lumba tersebut ditemukan warga setempat terdampar di pantai Dusun Oi Niu, Desa Panda pada Jumat, 10 September 2021 sekitar pukul 10.00 Wita dalam kondisi sudah mati.

Bambang menjelaskan, dari hasil wawancara warga setempat tidak mengetahui lumba-lumba tersebut merupakan satwa dilindungi undang-undang, dan setahu mereka satwa tersebut merupakan ikan biasa.

Lumba-lumba kemudian diangkut dengan sepeda motor menuju Desa Panda dan kemudian dipotong potong oleh warga setempat, kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada warga desa.

Petugas SKW III masih mendapati potongan kepala satwa tersebut, dari salah seorang warga desa. Potongan kepala kemudian diamankan untuk kemudian dikuburkan di lingkungan Kantor SKW III.

Menindaklanjuti hal tersebut, aku Joko, dirinya segera memerintahkan Kepala SKW III Bima dan jajarannya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat setempat.

“Edukasi yang diberikan berupa pemahaman bahwa lumba-lumba yang mati tersebut merupakan jenis satwa dilindungi undang-undang berdasarkan PP nomor 7 tahun 1999 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018,” katanya. [asa]

 

Berita terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *