Pemerintahan

Mudik dan Peluang Pertumbuhan Ekonomi Regional

Oleh: Eddy Cahyono

Tenaga Ahli Kedeputian I Kantor Staf Presiden

Dalam hitungan beberapa hari ke depan, umat Islam di seluruh Indonesia akan merayakan hari kemenangan Idul Fitri 2018, sebagai mana tahun-tahun sebelumnya, aktivitas mudik telah menjadi budaya yang tak dapat dilewatkan.

Aktivitas mudik kini tidak hanya dimanfaatkan oleh umat Islam semata, namun telah menjadi aktivitas “bersama” bagi seluruh warga Indonesia, yang semakin mendapatkan momentum dengan adanya penambahan waktu cuti bersama.

Tradisi mudik ditambah dengan adanya cuti bersama menjadikan moment Hari Raya Idul fitri tidak hanya sebagai sebuah peristiwa sosial budaya dan religius, tetapi juga telah bertransformasi menjadi fenomena yang memberi manfaat nyata dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi regional.

Mudik membawa konsekuensi meningkatnya mobilitas masyarakat ke kampung halamannya masing-masing, diiringi dengan peningkatan jumlah uang beredar, serta peningkatan konsumsi yang mampu menggerakkan aktivitas ekonomi produktif dan sektor riil di daerah.

Meningkatnya aktivitas mudik sekaligus sebagai cerminan meningkatnya kelas menengah dan mulai dirasakan nyata manfaat dari perbaikan infrastruktur konektifitas nasional, seperti perbaikan infrastruktur jalan raya, jalan tol, pelabuhan dan bandara.

Menurut prediksi Kementerian Perhubungan, jumlah pemudik 2018 kali ini diperkirakan akan mencapai 19,50 juta orang, atau mengalami kenaikan sebesar 5,17% dari jumlah pemudik tahun 2017 yang berjumlah 18,60 juta orang.

Sementara menurut catatan Bank Indonesia, kebutuhan peredaran uang kartal selama Ramadan dan Lebaran 2018 ini sebesar Rp188,2 triliun. Angka itu mengalami peningkatan sebesar 15,3 persen dari Ramadan tahun sebelumnya yakni sebesar Rp163,2 triliun, Kebutuhan peredaran uang kartal selama periode Ramadan dan Lebaran tahun ini melebihi rata-rata tahun-tahun sebelumnya.

Data dalam 5 tahun terakhir, 2013-2017 menunjukkan peningkatan outflow [peredaran uang] Ramadan Idul Fitri mencapai 13,9 persen per tahun, atau rata-rata uang beredar selama periode Ramadan dan Lebaran mencapai 25 persen dari total tahunan. Berdasarkan sebaran wilayah, peredaran uang tertinggi berada di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur mencapai 43,7 persen. Lalu, untuk Jabodetabek 22,8 persen, Sumatera 19,9 persen dan kawasan timur 18,9 persen.

Dashyatnya peningkatan jumlah pemudik dan uang beredar selama mudik lebaran, yang kumulatifnya terus bergerak naik dari tahun ke tahun, secara teori apabila dikelola secara baik akan berdampak positip bagi pertumbuhan ekonomi.

Semakin besar jumlah uang yang beredar maka perekonomian makin tumbuh positif, dengan demikian, daya beli masyarakat juga akan menggeliat. Potensi ini harus dikelola oleh pemerintah daerah dan pelaku ekonomi, dengan mendorong berkembangnya aktivitas investasi dan kegiatan ekonomi produktif, terutama investasi di bidang pertanian, mikro kecil menengah (UMKM), ekonomi kreatif maupun pariwisata lokal.

Ekonomi mudik, dari konsumtif ke produktif Fenomena mudik tak terbantahkan sebagai peluang dalam menggenjot pertumbuhan ekonomi regional, apabila dapat dibarengi dengan perencanaan strategik oleh pemerintah daerah dan kalangan dunia usaha, yang mengarah ke pengembangan investasi dan kegiatan ekonomi produktif.

Setidaknya ada 4 alasan utama yang melatarbelakanginya, Pertama, Mudik akan memacu tumbuhnya sektor riil, yang meliputi mayoritas aktivitas ekonomi masyarakat, seperti makanan, minuman, pusat oleh-oleh dan kerajinan.
Kedua, Mudik akan mempercepat redistribusi ekonomi dari kota besar ke daerah , dengan Cash Flow dari tradisi mudik yang meningkat pesat dari tahun ke tahun, apabila dapat diterjemahkan sebagai peluang pertumbuhan ekonomi regional, akan memiliki multiplier effect menstimulasi aktivitas produktif masyarakat, ditandai dengan tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di daerah, seperti penjualan oleh-oleh di rest area, lokasi wisata serta sektor riil dan jasa lainnya.

Ketiga, Mudik akan membawa pertumbuhan investasi di pedesaan, yang dapat menggerakkan semua sektor ekonomi di bidang peternakan, usaha kecil, industri rumahan, perikanan, bahkan di dalam bidang perdagangan.
Keempat , mudik juga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi yakni melalui peningkatan konsumsi, mengingat sejak tahun 2016, pertumbuhan konsumsi rumah tangga belum menggembirakan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan konsumsi hanya berkisar 5 persen sejak tahun itu. Padahal, konsumsi rumah tangga menyumbang 56,13 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) di tahun 2017.

Besarnya aliran dana mudik sudah seyogyanya tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi konsumtif, yang hanya bersifat jangka pendek semata, diperlukan terobosan dan inovasi sehingga mudik dapat menjadi momentum dalam menggerakkan perekonomian regional.

Pemerintah daerah harus melihat pemudik sebagai “investor domestik” sehingga perlu memfasilitasi berbagai event atau forum, yang menawarkan beragam potensi daerah, seperti wisata, UMKM, ekonomi kreatif dan lain-lain, yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.

Pemerintah daerah dan pelaku usaha di daerah harus mampu mentrasformasi peluang ekonomi mudik dan pemudik sebagai “investor lokal” dalam pengembangan ekonomi daerah, dengan terus meningkatkan penyelenggaraan berbagai event atau media promosi daerah yang menyebar di berbagai pusat-pusat keramaian/tempat-tempat wisata yang menjadi tujuan para pemudik.

Forum Silaturahmi mudik seyogyanya dapat pula menjadi ajang untuk transfer knowlegde dan enterpreneurship kepada masyarakat di daerah dalam mengembangkan aktivitas ekonomi produktif masyarakat daerah, sehingga memberi manfaat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi regional.

Dengan demikian diharapkan aktivitas mudik menjadi moment dalam mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di daerah sehingga dapat berkonstribusi terhadap pertumbuhan ekonomi regional yang berkualitas. Semoga. Selamat Idul Fitri 1439 H, mohon maaf lahir bhatin.

Tags

Artikel Terkait

Close
Close