Mundur Akibat Didemo, Presiden Kirgistan: Saya Gak Mau Ada Pertumpahan Darah

  • Whatsapp
Presiden Krigistan, Sooronbay Jeenbekov.[Anadolu Agency]

INDOPOLITIKA.COM – Buntut unjuk rasa berhari-hari dan terjadi kerusuhan yang dipicu oleh pemilihan parlemen yang disengketakan, Presiden Kirgistan Sooronbay Jeenbekov mengundurkan diri pada Kamis (15/10/2020).

Saat pengunjuk rasa mendekati kediaman kepresidenan, Sooronbay Jeenbekov tiba-tiba mengumumkan mengundurkan diri. Dia mengatakan tidak ada yang lebih disayangi selain nyawa setiap warga negaranya.

Berita Lainnya

“Saya tidak bergantung pada kekuasaan. Saya tidak ingin turun dalam sejarah Kirgistan sebagai presiden yang menumpahkan darah dan menembak warganya sendiri,” kata Jeenbekov yang diposting di situs kepresidenan.

Sejak pemilihan parlemen pada 4 Oktober, Kirgistan berada dalam krisis dengan demonstran meminta pejabat pemilu membatalkan hasilnya.

Dikutip dari laman BBC pada Selasa, 6 Oktober 2020, tiga dari empat partai tersebut memiliki hubungan dekat dengan Presiden Kirgistan Sooronbai Jeenbekov.

Selain gas air mata dan meriam air, polisi juga menggunakan granat kejut untuk membubarkan ratusan hingga ribuan demonstran di lapangan Ala-Too. Setelah sempat bubar, para pengunjuk rasa kembali ke pusat lapangan dan menyerbu gedung parlemen.

Video di media sosial memperlihatkan pedemo berada di kompleks parlemen. Sebagian dari mereka memanjat pagar, dan sebagian lainnya mendorong pintu gerbang utama. Asap kemudian terlihat mengepul dari area gedung.

Sekitar 120 orang dilaporkan terluka dalam bentrokan pada Senin, yang sebagiannya adalah aparat penegak hukum.

Kementerian Kesehatan Kirgistan mengonfirmasi adanya sejumlah orang yang terluka serius dalam bentrokan, namun tidak ada satu pun kematian.

Dalam aksi bentrokan, sejumlah demonstran membebaskan mantan presiden Kirgistan Almazbe Atambayev yang sempat ditahan di pusat penahanan di Badan Keamanan Nasional Kirgistan. Ia ditahan sembari menanti persidangan kasus dugaan korupsi.

Jeenbekov adalah presiden ketiga yang digulingkan dalam pemberontakan populer sejak Kirgistan memperoleh kemerdekaan pada tahun 1991.

Tidak seperti empat negara Asia Tengah lainnya yang muncul dari Uni Soviet, Kirgistan, dengan populasi 6,5 juta, memiliki pluralistik. Politik kehidupan Kirgistan terkait dengan tradisi berbasis klan yang kuat.

Negara pegunungan yang terkurung daratan, yang berbatasan dengan Tiongkok, menjadi tuan rumah pangkalan udara Rusia dan menerima jutaan bantuan keuangan dari Kremlin. [rif]

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *