INDOPOLITIKA – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengaku terkejut dengan harga produk impor asal Tiongkok yang dinilai sangat murah.

Menurut Menteri UMKM Maman Abdurrahman, kondisi tersebut membuat pelaku UMKM dalam negeri kesulitan untuk berkembang karena harga produk lokal tidak dapat bersaing dengan barang impor yang diproduksi secara massal.

Jilbab kok bisa dijual seribu perak? Baju batik kita malah diimpor dari sana, diberi label, lalu harganya jadi tidak masuk akal seperti itu,” ujar Maman kemarin.

“Kecuali kalau Indonesia memang belum bisa memproduksi jilbab atau batik sendiri. Tapi kalau kita bisa, ya seharusnya kita tahan (arus impornya). Itu saja menurut saya,” tambahnya.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan evaluasi lanjutan terhadap maraknya impor berharga murah, sambil terus berupaya mendorong UMKM naik kelas melalui peningkatan kualitas produk, sertifikasi, serta perluasan akses pasar.

Ia menilai bahwa dua arus besar produk impor murah tersebut telah mengganggu daya saing industri fesyen nasional, khususnya para pelaku UMKM yang sulit bersaing dari sisi harga.

“Dua hal ini benar-benar menghantam produsen UMKM kita,” tutupnya.(Hny)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com