Musso PKI Gerilya, Madiun Berdarah

  • Whatsapp
Proses introgasi terhadap simpatisan PKI Pada September 1948

INDOPOLITIKA.COM- Madiun berdarah. Hari ini 71 tahun silam terjadi pemberontakan PKI Madiun 1948. Berdasarkan sumber wikipedia, pemberontakan ini dilakukan oleh Front Demokrasi Rakyat (FDR), yang terdiri atas Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Sosialis Indonesia (PSI), Partai Buruh Indonesia (PBI), Pemuda Rakyat dan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI).

Pemberontakan ini diawali dengan jatuhnya kabinet Amir Sjarifuddin yang saat itu tak lagi mendapat dukunganpasca kesepakatan Perjanjian Renville. Lalu dibentuklah kabinet baru dengan Mohammad Hatta sebagai perdana menteri, namun Amir beserta kelompok-kelompok sayap kiri lainnya tidak setuju dengan pergantian kabinet tersebut.

Baca Juga:

Dalam sidang Politbiro PKI pada 13-14 Agustus 1948, Musso, tokoh komunis Indonesia yang lama tinggal di Uni Soviet (sekarang Rusia) ini menjelaskan tentang “Pekerjaan dan kesalahan partai dalam dasar organisasi dan politik.” Dia menawarkan gagasan “Jalan Baru untuk Republik Indonesia”. Musso menghendaki satu partai kelas buruh bernama PKI. Untuk mewujudkan itu Musso melakukan fusi tiga partai beraliran Marxsisme-Leninisme: PKI ilegal, Partai Buruh Indonesia (PBI), dan Partai Sosialis Indonesia (PSI). PKI hasil fusi ini akan memimpin revolusi proletariat untuk mendirikan pemerintahan Komite Front Nasional.

Masyarakat menangkap dan mengarak terduga simpatisan PKI pada September 1948

Selanjutnya, Musso menggelar rapat raksasa di Yogya. Di sini dia melontarkan pentingnya kabinet presidensial diganti jadi kabinet front persatuan. Musso juga menyerukan kerja sama internasional, terutama dengan Uni Soviet, untuk mematahkan blokade Belanda. Untuk menyebarkan gagasannya, Musso beserta Amir dan kelompok-kelompok kiri lainnya berencana menguasai daerah-daerah yang dianggap strategis di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu Solo, Madiun, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Cepu, Purwodadi, dan Wonosobo. Penguasaan itu dilakukan dengan agitasi, demonstrasi, dan aksi-aksi pengacauan.

Rencana itu diawali dengan penculikan dan pembunuhan tokoh-tokoh yang dianggap musuh di kota Surakarta, serta mengadu domba kesatuan-kesatuan TNI setempat, termasuk kesatuan Siliwangi yang ada di sana.

Mengetahui hal itu, pemerintah langsung memerintahkan kesatuan-kesatuan TNI yang tidak terlibat adu domba untuk memulihkan keamanan di Surakarta dan sekitarnya. Operasi ini dipimpin oleh kolonel Gatot Subroto.

Ketika perhatian semua pihak pro-pemerintah terkonsentrasi pada pemulihan Surakarta, pada 18 September 1948, PKI/FDR menuju ke arah timur dan menguasai Kota Madiun, Jawa Timur. Pada hari itu juga diproklamasikan berdirinya Republik Soviet Indonesia. Hari berikutnya, PKI/FDR mengumumkan pembentukan pemerintahan baru. Selain di Madiun, PKI juga mengumumkan hal yang sama pula di Pati, Jawa Tengah. Pemberontakan ini menewaskan Gubernur Jawa Timur RM Suryo, dokter pro-kemerdekaan Moewardi, petugas polisi dan tokoh-tokoh agama.

Untuk memulihkan keamanan di Madiun, pemerintah bertindak cepat. Provinsi Jawa Timur dijadikan daerah istimewa. Selanjutnya Kolonel Sungkono diangkat sebagai gubernur militer. Operasi penumpasan dimulai pada 20 September 1948 dipimpin oleh Kolonel A. H. Nasution.

Salah satu operasi penumpasan ini adalah pengejaran Musso yang melarikan diri ke Sumoroto, sebelah barat Ponorogo. Dalam peristiwa itu, Musso berhasil ditembak mati. Sedangkan Amir Sjarifuddin dan tokoh-tokoh kiri lainnya berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Amir sendiri tertangkap di daerah Grobogan, Jawa Tengah. Sedangkan sisa-sisa pemberontak yang tidak tertangkap melarikan diri ke arah Kediri, Jawa Timur.[sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *