Daerah

Mustofa Widjaja: Tahun Baru Islam Miliki Makna Semangat Perjuangan, Berbuat Kebaikan, dan Persaudaraan

Hari ini, Selasa (11/09/2018) atau 1 Muharam umat Islam di seluruh dunia merayakan Tahun Baru Islam ke-1440. Perayaaan Tahun Baru Islam merupakan peringatan peristiwa bersejarah dalam keyakinan Umat Islam.

Dikatakan bersejarah karena Tahun Baru Islam memperingati kisah hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah. Oleh umat Muslim peristiwa ini diakui sebagai tonggak kebangkitan Islam. Usai tidak membuahkan hasil setelah kurang lebih 13 tahun berdakwah di Mekkah, Nabi Muhammad berhasil membawa Islam ke puncak kejayaannya usai hijrah ke Madinah.

Menurut Calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Mustofa Widjaja, peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah layak direnungkan kembali oleh umat Islam di seluruh dunia. Karena banyak pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa tersebut.

Menurut mantan kepala BP Batam ini, hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah memiliki makna semangat perjuangan. Ia menegaskan bahwa Nabi Muhammad mengajarkan kepada kita semua untuk tidak pernah berputus asa dalam berjuang. Karena kegagalan bukanlah akhir dari perjuangan, tetapi hanyalah kesuksesan yang tertunda. Hal itu dibuktikan oleh Nabi Muhammad usai hijrah ke Madinah.

“Sebagai umat Islam kita perlu merenungkan kembali peristiwa yang melahirkan peringatan Tahun Baru Islam ini. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa tersebut. Salah satunya tentu saja semangat perjuangan,” kata Mustofa Widjaja.

Untuk itu, Mustofa Widjaja yang saat ini menjabat sebagai anggota dewan pakar ICMI Pusat ini mengajak umat Islam di Indonesia, khususnya di Provinsi Kepri untuk tidak pernah menyerah dalam berjuang. Ia mengajak umat Islam untuk selalu menanamkan sikap optimis dalam menghadapi apapun.

“Rasa optimisme harus terus ditanamkan dalam mengerjakan sesuatu. Karena dengan cara itu, kesuksesan bisa diraih,” tegasnya.

Hikmah selanjutnya menurut Mustofa Widjaja adalah Nabi Muhammad mengajarkan kita untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan mendekati yang baik-baik, demi meraih rida Allah SWT, baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, baik secara lahir maupun batin dan baik secara individual maupun sosial.

”Hijrahnya Nabi juga mengajarkan kita untuk selalu berbuat kebaikan. Hal-hal buruk yang pernah kita lakukan harus mulai ditinggalkan, dan jangan pernah diulang kembali,” ungkap Mustofa Widjaja.

Selain itu, Mustofa Widjaja menjelaskan bahwa hijrah juga mengandung semangat persaudaraan. Semangat ini menurutnya pantas ditanamkan oleh seluruh rakyat Indonesia. Apalagi bangsa ini dikenal dengan bangsa yang majemuk. Maka semangat persaudaraan harus dijadikan pedoman hidup.

“Terakhir, makna yang dapat diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad adalah persaudaraan. Kita semua tahu saat hijrah Nabi berhasil menyatukan kaum Muhajirin dan Ansor. Juga bersahabat baik dengan orang-orang Yahudi maupun Nasrani. Sebagai negara yang majemuk, terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras dan bahasa, sejarah itu pantas dijadikan pelajaran,” pungkasnya. (ind)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close