Internasional

Nadia Murad Lanjutkan Perjuangan Minoritas Yazidi

Nadia Murad berada di Hanover, Jerman, 31 Mei 2016. (Foto: AFP/dpa/JULIAN STRATENSCHULTE)

Oslo: Saat masih anak-anak, Nadia Murad Basee bercita-cita menjadi guru atau membuka salon kecantikan. Namun saat Murad beranjak dewasa, kelompok militan Islamic State (ISIS) menyerbu desa tempat tinggalnya di Irak. Dunia, keluarga dan mimpi-mimpi Nadia pun hancur.

Dia ditangkap ISIS pada Agustus 2014 dan diperdagangkan sebagai budak seks. Murad dan keluarganya menjadi target karena mereka berasal dari etnis minoritas Yazidi.

Diperkosa dan dijual berulang kali, Murad bertahan hidup selama berbulan-bulan hingga akhirnya salah satu militan membebaskannya. Ia melarikan diri dan berhasil selamat.

Meski mengalami trauma mental dan fisik, Murad memutuskan berbicara ke hadapan publik mengenai penderitaannya. Ia berani mengenang kembali semua memori buruknya.

Murad menyebut buku otobiografi miliknya sebagai "The Last Girl" — karena dia ingin memastikan dirinya menjadi "Gadis Terakhir dengan kisah seperti saya."

Sejak bebas dari ISIS, Murad fokus mendukung para korban selamat kekejaman grup tersebut, dan juga berusaha mencari keadilan. Dia menyerukan kepada dunia untuk mengumpulkan dan menjaga sejumlah bukti agar para militan ISIS bisa diseret ke pengadilan.

Perjuangan berat ini terus dijalani Murad, dan dia pun mendapat banyak dukungan, termasuk dari pengacara ternama Amal Clooney hingga Samantha Power yang pernah menjadi Duta Besar Amerika Serikat di bawah Barack Obama.

Baca: Mantan Budak Seks ISIS Bertemu Penculiknya di Jerman

Dunia terkejut saat mulai mengetahui ISIS berusaha menghidupkan kembali perbudakan seks yang sempat berjalan beratus-ratus tahun lalu. Para korban selamat perbudakan ini telah muncul di berbagai media global. Namun ketertarikan dunia mengenai hal tersebut perlahan memudar, seiring semakin runtuhnya kekhilafahan ISIS di Irak dan Suriah.

Pemerintah Irak dan negara-negara Barat telah mendeklarasikan kemenangan melawan ISIS. Namun ribuan Yazidi masih dinyatakan hilang, dan banyak korban selamat perbudakan yang hidup dalam kondisi trauma di kamp-kamp pengungsian.

Namun, harapan akan kehidupan yang lebih baik di kalangan para korban perbudakan muncul kembali saat Murad dianugerahi penghargaan Nobel Perdamaian 2018. Ini merupakan penghargaan yang mengapresiasi keberanian Murad serta perjuangan bagi wanita di seluruh dunia.

Diharapkan Murad dapat terus menjaga cahaya harapan bagi para korban perbudakan di luar sana.

Baca: Mantan Sandera ISIS Raih Nobel Perdamaian

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close