Nahdlatul Ulama dan Ide Pilpres Melalui MPR

  • Whatsapp
Ketua MPR Bambang Soesatyo bertandang ke kantor pusat PBNU, Jakarta (27/11/2019).

Komitmen pada pilpres langsung terus dijaga oleh Gus Dur, Kiai Hasyim, dan Kiai Said. Jika ini di-nasakh saat ini, sejatinya NU me-nasakh hasil kerjanya sendiri yang sangat baik. Ada apa dengan NU?

Ketika membaca berita media online NU bahwa Nahdlatul Ulama setuju presiden tak perlu dipilih langsung, saya langsung kaget mengapa ada pemikiran seperti ini. Ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj menyatakan pemilihan presiden (pilpres) melalui MPR lebih memiliki dampak kebaikan umum (maslahah ammah) bagi masyarakat Indonesia. Beragam komentar muncul di ruang perbincangan media sosial menanggapi gagasan di atas.

Baca juga:

Banyak pihak yang mendukung, namun lebih banyak lagi pihak yang menolak gagasan tersebut. Pihak yang mendukung berargumen bahwa pilpres langsung sudah terbukti menimbulkan banyak kerugian di masyarakat seperti polarisasi dan politik biaya tinggi. Pihak yang menolak gagasan tersebut berargumen bahwa justru pilpres melalui MPR-lah yang telah menimbulkan kembalinya keterbelakangan Indonesia dalam berdemokrasi.

Saya mencoba melihat persoalan ini dari sudut pandang NU, sejarah NU dalam berpolitik pada satu sisi dan demokrasi pada sisi yang lainnya.

Argumen Fiqhiyyah vs Demokrasi

Argumen yang dikemukakan oleh Kiai Said dalam mendukung gagasannya adalah pilpres langsung yang sudah berjalan selama kurang lebih empat kali (20 tahun) dianggap lebih banyak menciptakan madarat (kerusakan) daripada kemaslahatan (kebaikan). Kiai Said merujuk pada hasil Bahsul Masail MUNAS NU di Kempek, Cirebon, pada tahun 2012.

Meskipun konteksnya pada saat itu bukan soal pilpres, namun lebih pada soal evaluasi terhadap pilkada, demikian paling tidak yang disepakati dalam Bahsul Masa’il Kempek, Kiai Said memandang bahwa konteks tersebut bisa dijadikan sebagai argumen untuk pemilu presiden. Cara pandang Kiai Said yang fiqhiyyah ini bisa dipahami karena politik dari sudut pandang ini yang diutamakan adalah dampak akhirnya (maqasid)-nya daripada prosesnya. Selama prosesnya masih dalam bentuk pilihan (syura), maka pada proses apa pun yang dilihat adalah hasilnya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *