Internasional

Najib Pertanyakan Batalnya Proyek Kereta Cepat Malaysia

Mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak yang kini menjadi anggota parlemen oposisi (Foto: AFP).

Kuala Lumpur: Mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak menanyakan Menteri Urusan Ekonomi negara itu, Azmin Ali, pada Rabu 18 Juli. Ia menyoal dampak ekonomi batalnya proyek kereta api kecepatan tinggi (HSR) Kuala Lumpur-Singapura.
 
Berbicara pada debat parlemen pertama sejak pemerintahan baru Pakatan Harapan mulai berkuasa Mei, Najib meminta pemerintah untuk mengungkapkan dampak proyek terhadap ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Alasannya bahwa HSR adalah proyek yang dikehendaki banyak orang.
 
Azmin menjawab selama debat di Dewan Rakyat bahwa HSR sangat mahal untuk sambungan rel sepanjang 350 km. Sedangkan pemerintah berusaha mengurangi utang dan kewajiban melebihi USD251 miliar.
 
PM Malaysia Mahathir Mohamad juga menggemakan sentimen serupa ketika pertama kali mengumumkan penghapusan proyek HSR, pada Mei. Dia mengklaim bahwa kesepakatan HSR, yang disepakati pemerintahan sebelumnya yang dipimpin oleh Najib, mahal dan tidak akan menguntungkan negara.
 
Pada Rabu, Azmin berkata perkiraan biaya pemerintah untuk proyek itu adalah RM110 miliar (USD27 miliar). Angka ini lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
 
Najib,-yang sekarang duduk sebagai anggota parlemen oposisi-, mempertanyakan angka itu sementara tender internasional untuk proyek itu akan berakhir pada Desember.
 
"Tender terbuka akan dilihat dan diputuskan oleh kedua pemerintah, yang berarti bahwa biaya pasti proyek tidak diketahui karena tender masih terbuka," katanya, seperti dilansir dari Channel News Asia, Rabu 18 Juli 2018.
 
Azmin berkilah, figur Pakatan Harapan memperhitungkan 'biaya tak terduga' yang tidak dibuka oleh pemerintah Najib.
 
Singapura sudah menyatakan bahwa pihaknya belum menerima pemberitahuan resmi tentang rencana Malaysia membatalkan proyek 

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close