Internasional

Nelayan Selamatkan Anak-anak dari Kebakaran Hutan Yunani

Imbas kebakaran hutan yang terjadi di Yunani menyisakan kehancuran (Foto: AFP).

Athena: Anak-anak telah ditemukan berpegangan pada orang-orang dewasa, sementara penolong lain tidak bisa berenang menjangkau mereka. Sebelumnya, anak-anak itu bisa lolos dari kebakaran hutan di Yunani dengan menyelamatkan diri ke laut.
 
Para nelayan bergabung dengan misi penyelamatan karena amuk api tidak menyisakan jalan keluar.
 
Mereka menggambarkan tampak puluhan orang terombang-ambing di laut di tengah asap yang tercekik saat Si Jago Merah terus melalap resor tepi laut di dekat Athena.
 
Tawefik Halil berada di antara nelayan yang menanggapi seruan mendesak oleh penjaga pantai Yunani. Mereka menghadapi pertempuran yang luar biasa guna menyelamatkan para korban yang selamat dari kebakaran hutan paling mematikan dalam beberapa dasawarsa. Relawan berusia 42 tahun dan rekannya telah menolong ratusan orang yang terdampar di pantai dan di perairan berombak, diterpa angin kencang.
 
"Itu kekacauan, apakah Anda mengerti? Tahukah Anda bagaimana rasanya mengisap asap, tidak bisa melihat apa-apa, dan sementara orang-orang minta bantuan?" ujarnya seperti dikutip AFP, Kamis 26 Juli 2018.
 
Sebelumnya, dikonfirmasi bahwa pria Irlandia Brian O'Callaghan-Westropp berada di antara 80 orang yang telah tewas akibat kebakaran hutan ini.
 
Dia berbulan madu dengan istri barunya, Zoe Holohan, ketika mobil mereka dilalap api di kota pesisir bernama Mati.
 
Istrinya lebih dulu menyampaikan permohonan frustrasi guna menemukan O'Callaghan-Westropp setelah mereka terpisah dan berupaya melarikan diri.
 
Dia saat ini sedang dirawat luka bakar di kepala dan tangannya pada sebuah rumah sakit di Athena. Sebagai seorang pasien di antara lebih dari 700 orang yang selamat.
 
Halil mengaku tidak ingat berapa banyak orang yang telah dia selamatkan, tetapi dia dan nelayan sukarelawan lainnya melakukan apa yang mereka bisa saat mereka menarik anak-anak dan korban yang lebih tua dari perairan.
 
"Anda tidak dapat melihat apa pun di bawah asap dan api — begitu banyak api dan begitu banyak asap. Ada banyak angin," katanya.
 
"Kami tidak bisa bernapas. Saya hampir pingsan di beberapa titik dari pengapnya asap, dan itu sangat sulit, kawan, itu sangat sulit. Saya belum pernah melihat hal yang sulit seperti itu sebelumnya," cetusnya, seperti disitat dari Metro.co.uk, Kamis 26 Juli 2018.
 
Banyak orang di pantai terpaksa berenang karena keganasan api, tetapi beberapa dari mereka tidak bisa berenang.
 
Orang-orang terjun ke dalam air berusia antara delapan hingga 70, kata Halil, beberapa di antara mereka berkerumun dan semua memohon bantuan.
 
"Mereka yang bisa berenang, kami menyelamatkan mereka. Yang lain yang tidak tahu cara berenang, kami tidak tahu apakah mereka ada di sana, apakah mereka hidup dan apa yang terjadi," seru dia.
 
"Apa yang bisa kami lakukan, kami lakukan," tekadnya.
 
Kobaran api mulai menyala di barat Athena dekat kota Kineta, Senin, dan menyapu desa-desa dibawa angin berkecepatan 80km per jam.
 
Jago Merah merambat lebih lanjut mulai 29km timur Athena di Rafina.
 
Walikota Rafina, Evangelos Bournous, mengatakan kerusakan yang diakibatkan — dengan lebih dari 1.000 bangunan dan ratusan mobil rusak — sangat buruk sehingga 'Kota Mati tidak ada lagi'.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close