Nenek Bercucu Lima Diwisuda di Usia Hampir 70 Tahun  

  • Whatsapp
Maria Lidwina Endang Suwarni, saat diwisuda, Rabu (11/9). Foto/Republika/Dadang Kurnia

INDOPOLITIKA.com- Semangat Maria Lidwina Endang Suwarni menyelesaikan pendidikanya. Gelar sarjana Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang diraihnya di usia hampir 70 tahun menjadi kado teramat indah untuknya.

Ya, Maria yang dikarunia tiga anak dan lima orang cucuk menjadi wisudawan tertua, yang diwisuda di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), pada Rabu (11/9). Bahkan, cucu pertamanya pun segera menyandang gelar sarjana pada November 2019.

Baca Juga:

Sebelum sah meraih gelar sarjana, perempuan yang mengajar di PAUD PPT Dewi Sartika, Manukan, Surabaya sejak 2005 tersebut mengaku banyak menemui kendala, sehingga proses meraih gelar sarjana menjadi lama. Baik dari segi pembiayaan kuliah maupun kendala tekhnis lainnya. Maria yang tidak mahir berkendara, bahkan setiap paginya harus diantar anak pertamanya menuju kampus.

Maria pun bersyukur ada pihak-pihak yang dengan sukarela mau membantunya dalam hal pembiayaan, sehingga bisa meraih gelar sarjana. Dia merasa, dia tidak akan mampu membiayai pendidikannya sendiri, tanpa ada uluran tangan dari orang lain. Apalagi, penghasilannya pun tidak seberapa.

“Biaya kuliah sebesar Rp 1,5 juta per semester. Bayarnya dari penghasilan dari internal kelas saya dapat Rp 50 ribu per bulan. Kemudian dari Diknas baru-baru ini dapat Rp 400 ribu per bulan. Itu pun tidak bisa penuh karena di sekolah saya ada delapan bunda, yang mendapat cuman 4 bunda, jadi dibagi-bagi,” ujarnya.

Ingatan Mulai Melemah, Maria Bisa Raih IPK 3,57

Maria kemudian mengungkapkan kendala lainnya yang ditemui selama menempuh pendidikan tersebut. Terutama terkait ingatannya yang mulai melemah. Maria mengaku tidak mudah menangkap pelajaran yang dipaparkan dosennya. Bahkan saat akan ujian, dia harus membacanya berulang kali.

“Tidak bisa saya tangkap karena saya untuk mengulang pelajaran itu tidak sekali menerima. Tapi harus berulang kali membaca. Begitu juga saat ada UTS atau UAS, saya harus benar-benar mempersiapkan diri. Karena untuk mengingat sudah tidak seperti dulu,” ujar peraih IPK 3,57 tersebut.

Kendati demikian, Maria terus menyemangati dirinya untuk bisa lulus tepat waktu. Maria yang memulai kuliahnya pada 2015 bisa menyelesaikan pendidikan S1 tepat waktu, yakni empat tahun.

Setelah lulus, Maria menegaskan dirinya akan tetap mengabdi untuk mendidik anak-anak PAUD. “Saya bersama teman-teman di PAUD lebih menekankan pada kegiatan sosial, membantu sesama. Saya tetap berkomitmen untuk memajukan dan tetap setia di Paud sebagai ladang amalan di dunia,” ujar Maria

Maria juga berpesan kepada generasi muda untuk bisa memanfaatkan waktu dalam menempuh pendidikan. Terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga mampu. Maria berpesan agar terus semangat menuntut ilmu, untuk bekal di hari tua, dan mengabdi bagi bangsa dan negara.

“Mudah-mudahan untuk anak-anak saya, cucu-cucu saya, jangan patah semangat. Menyesal kalau ada dana, sarana ada, tapi anak-anak putus sekolah di tengah jalan,” ujar Maria.[asa]

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *