Pabrik Kewalahan Penuhi Permintaan Sepeda, Menperin Dorong Industri Lokal dan Kaji Penerapan SNI

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Akhir-akhir ini, budaya bersepeda kian marak di beberapa daerah di Indonesia. Hal ini berimbas pada permintaan sepeda yang tinggi hingga industri sepeda dalam negeri kewalahan.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya memperdalam struktur manufaktur pada sektor industri sepeda di dalam negeri. Ini bertujuan mendorong tumbuhnya produsen komponen, sehingga dapat lebih mengoptimalkan penggunaan produk lokal dalam mata rantai produksi sepeda.

Berita Lainnya

“Kami akan koordinasikan dengan berbagai pihak. Terutama sektor industrinya itu sendiri agar bisa mengembangkan sepeda dengan berbagai komponen yang diproduksi di dalam negeri,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan, Senin (13/7/2020).

Menurutnya potensi pasar domestik untuk industri sepeda sangat besar, sehingga peluang bisnisnya juga masih terbuka lebar. Apalagi, di tengah kondisi pandemi Covid-19 saat ini, masyarakat banyak yang memilih olahraga bersepeda demi bisa menjaga kesehatan.

“Kami lihat tren penggunaan dan penjualan sepeda lagi naik. Kenaikan ini tidak akan sebentar, dan kami juga lihat kalau pun Covid-19 sudah selesai, naik sepeda sudah jadi lifestyle, sehingga demand-nya dalam jangka menengah tidak akan menurun, bahkan masih akan naik,” tuturnya.

Guna memacu daya saing industri sepeda di Tanah Air, Agus menyatakan, Kemenperin akan melakukan pembicaraan dengan beberapa prinsipal sepeda serta mengkaji penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Kami ingin nantinya sepeda yang dipakai masyarakat Indonesia adalah 100% produksi industri di Indonesia,” kata Agus.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Sepeda dan Mainan (APSMI) Eko Wibowo mengatakan tingginya permintaan sepeda yang terus berlanjut hingga saat ini, menjadi tidak bisa dipenuhi produsen. Pasalnya, pasokan komponen bahan baku sepeda tidak tersedia di dalam negeri.

“Di Indonesia hanya frame dan pengecatan saja [yang tersedia],komponen lainnya yang mendukung tidak ada di Indonesia,” ujar Eko Wibowo dikutip dari Bisnis.com akhir pekan lalu.

Eko mendata permintaan pada Juni 2020 naik 3-4 kali lipat dari bulan biasa. Adapun, industri sepeda memiliki dua musim puncak yang membuat permintaan sepeda naik maksimum 2 kali lipat, yakni musim lebaran, dan musim masuk sekolah.

Eko menjelaskan tingginya permintaan tersebut membuat ketersediaan sepeda di gudang industri habis. Menurutnya, biasanya, gudang industri sepeda memiliki stok untuk permintaan selama 5 tahun dalam keadaan normal.

“Dalam (pengalaman saya) bisnis sepeda (selama) 20 tahun tidak mungkin terjadi begini. Utilitas (pabrikan) bisa 100 persen, malah beberapa pabik meningkatkan produksi di atas 200 persen. Cuma ini permintaan tinggi sekali, tapu namanya produksi tidak bisa sekonyong-konyong cepat,” ucapnya.

Eko berujar sebagian pabrikan saat ini sudah menghentikan produksinya dan mengimpor sepeda jadi. Menurutnya, hal tersebut dilakukan untuk memenuhi permintaan dalam negeri yang tetap tinggi. [rif]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *