Internasional

Palestina Tegaskan Tidak Membenci Yahudi

Bendera Palestina untuk kali pertamanya dikibarkan di area gedung PBB, New York, Rabu 30 September 2015. (Foto: AFP / SPENCER PLATT / GETTY IMAGES NORTH AMERICA)

Jakarta: Kami tidak membenci Yahudi. Demikian ditegaskan Mahmoud Sudqi al-Habbash, Penasihat dari Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Dalam keterangan pers di Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, Rabu 15 Agustus 2018, Mahmoud menjelaskan bahwa masyarakatnya hanya membenci cara-cara sebagian elemen pemerintah dan warga Israel dalam menyikapi konflik berkepanjangan dengan Palestina.

“Di Palestina banyak Yahudi juga, tapi mereka merupakan warga kami. Yahudi di Palestina membantu sesama warga dan juga bangga sebagai warga negara,” ungkap Mahmoud.

“Pada dasarnya, kehidupan kami dengan Yahudi tidak ada masalah. Kami hidup damai dan rukun,” lanjut dia.

Mahmoud menilai banyak orang mungkin berasumsi bahwa warga Palestina sudah pasti membenci segala sesuatu mengenai Israel. Namun pada kenyataannya, Palestina hanya tidak menyukai sebagian elemen dari Israel yang dinilai berusaha berbuat kerusakan dan memperpanjang konflik.

Ia mengambil contoh mengenai langkah Israel yang menguasai tanah milik Palestina dan mendirikan perumahan. Kini, kata dia, sudah ada sekitar 600 ribu warga Israel tinggal di rumah yang dibangun di atas tanah Palestina.


Penasihat Presiden Palestina Mahmoud Sudqi al-Habbash (kanan). (Foto: Willy Haryono)

Hal-hal semacam ini dianggap Palestina semakin menjauhkan kemungkinan terjadinya perdamaian antar kedua kubu.

“Sikap Amerika Serikat juga semakin memperburuk keadaan. Seperti kalian semua tahu, akhir tahun lalu Amerika Serikat mengatakan akan menjadikan Al Quds (Yerusalem) sebagai ibu kota Israel,” sebut Mahmoud, yang juga geram karena AS telah meresmikan kedutaan besarnya di wilayah tersebut.

Baca: 43 Orang Tewas Seiring Dibukanya Kedubes AS di Yerusalem

Setelah AS membuka kedubes di Yerusalem, Palestina memutuskan hubungan diplomatik dengan Washington. Mahmoud mengklaim AS sempat menghubungi kembali Palestina dan memohon agar tidak memutuskan hubungan.

Alasan AS ketika itu adalah bahwa perdamaian di Yerusalem harus terbentuk lewat kesepakatan antara Palestina dan Israel. Namun Palestina menilai peran AS sebagai mediator perdamaian sudah tidak bisa dipercaya lagi.

“Sudah jelas bagi kami bahwa (Presiden AS Donald) Trump ingin menjelaskan kepada dunia bahwa Palestina itu tidak ada,” kata Mahmoud, merujuk kembali pada pembukaan Kedubes AS di Yerusalem.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close