Part I: Ini Penjelasan JJ Rizal Soal Asal Usul Jakarta Kota Air dan Konsep Kanalisasi di Ibukota

  • Whatsapp
Sejarawan, JJ Rizal.

INDOPOLITIKA.COM- Sejarawan JJ Rizal bicara panjang lebar terkait persoalan banjir yang kerap menimpa DKI Jakarta. Menurut dia, selama ini pemimpin Ibukota keliru dalam memahami keberadaan sungai di Jakarta.

Mengawali penjelasannya, JJ membuka sejarah asal usul Jakarta. Dia bilang, Jakarta itu lahir bersama air. Jadi ribuan tahun lalu, kata JJ, hujan itu mengikis tiga gunung yang ada di selatan Jakarta. Ketiga gunung itu adalah Pangrango, Gede dan Salak. Air yang mengalir ke wilayah Jakarta itu membawa lumpur hingga membentuk dataran dan sungai-sungai.

Baca juga:

“Makanya kalau membuka peta kawasan Jakarta itu dilalui banyak sungai. Dan mayoritas tempat itu identik dengan air. Banyak tempat di Jakarta menggunakan nama rawa. Ada Rawa Gatel, Rawa Belong, Rawa Sari. Selain itu banyak juga menggunakan kata kali,” ujar JJ dikutip dari wawancara kanal youtube Watchdoc Documentary yang dirilis pada Kamis (09/01/2020).

Lebih lanjut, sejarawan yang pernah dimaki (maaf) goblok oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) ini mengatakan, sejarah peradabatan tertua di Jakarta itu justru berada di wilayah aliran sungai. Hal itu, kata JJ, ditandai dengan banyaknya temuan arkeolog di daerah aliran sungai Ciliwung, yang menandakan kehidupan peradaban ada di sana.

Pusat peradaban tinggi di Jakarta berada di muara-muara sungai, di pesisir. Di sana, kata JJ, banyak bermukim juragan-juragan perahu. Kemegahan rumah Si Pitung yang berada di Marunda, Jakarta Utara menggambarkan kalau Ciliwung itu bukan sebagai sungai belaka, tapi juga sarana transportasi, tempat bagi pengusaha perahu, pengusaha getek, tukang eretan mengais rezeki.

“Jadi sungai itu bukan hanya ruang suci, tapi juga ruang rezeki. Dan semua yang berkait dengan sungai itu menjadi simbol perdaban yang tinggi. Itu semua digambarkan dalam sastra-sastra tinggi Betawi,” imbuh JJ.

Datangnya penjajah Belanda merusak pemikiran itu semua. Dijelaskan JJ, Belanda datang dengan membawa konsep penanganan sungai dengan mengedepankan pemikiran bahwa limpasan air itu harus secepatnya dibuang ke laut lewat kanalisasi. Seperti apa yang telah mereka lakukan di Kota Amsterdam.

Di Batavia, kata JJ, Belanda berupaya meluruskan aliran sungai Ciliwung, hingga akhirnya menimbulkan pendangkalan. Sistem kanalisasi yang dilakukan Belanda itu terbukti gagal diterapkan di Batavia kala itu.

“Jadi (konsep) kanal itu bukan hanya gagal, tapi juga ‘membunuh’ warga Batavia. Warga Batavia akhirnya pindah ke selatan. Hingga akhirnya di abad 19, di awal tahun 1800, mereka (warga Batavia) mulai belajar membuat rumah dengan konsep arsitektural tropis, menyediakan ruang dengan taman yang lebih besar. Rumah hanya sebagian kecil. Ruang dominan justru diisi dengan pohon dan ruang biru,” pungkasnya.[sgh]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *