Partai Gelora Indonesia Harus Tampil Beda Dari PKS, Jika Tidak Wasalam…

  • Whatsapp
Pengamat politik Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Ahmad Khoirul Umam.

INDOPOLITIKA.COM- Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia jadi buah bibir. Berdasarkan spekulasi berbagai kalangan partai ini berpotensi bakal menggerus suara Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mengingat kelahiran partai ini dibidani oleh mantan elite PKS.

Pengamat politik Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Ahmad Khoirul Umam mengatakan, jika Partai Gelora igin bersaing di Pemilu 2024 maka mau tidak mau dia harus dapat membedakan dirinya dengan PKS.

Baca Juga:

“Harus membedakan diri baik dari aspek karakter pergerakan, identitas ideologis, visi-misi, dan platform kepartaian, hingga kelangsungan logistik,” kata Managing Director PPPI itu lewat keterangan tertulis yang diterima Indopolitika.com, Sabtu (09/11/2019).

Pendirian Partai Gelora Indonesia itu sendiri diketahui kini masih dalam proses administrasi pengurusan badan hukum. Namun, Khoirul menilai sepak terjang partai hasil eksperimen politik mantan elit PKS, seperti Anis Matta dan Fahri Hamzah patut untuk dicermati.

Di internal PKS sejak lama, sudah tampak dari idiomnya, ada orientasi dan arah perilaku politik yang berbeda terbagi menjadi dua faksi, yaitu ‘faksi keadilan’ yang dianggap lebih ideologis dan ‘faksi kesejahteraan’ yang lebih berorientasi ekonomi.

“Anis Matta dan Fahri Hamzah identik sebagai ‘faksi kesejahteraan’, sedangkan senior-senior seperti Hidayat Nur Wahid identik dengan ‘faksi keadilan’. Itu hanya permainan idiom saja. Langkah perilaku politik mereka ke depan yang akan mengonfirmasi di bagian mana mereka berposisi,” kata Khoirul.

Kemampuan Partai Gelora Indonesia membedakan diri dari partai ‘induknya’ akan menentukan kemampuan mereka bertahan dan lolos ambang batas parlemen (parliamentary thresshold) pada Pemilihan umum 2024.

“Tapi kalau (Partai) Gelora hanya menduplikasi apa yang dilakukan PKS, kecil kemungkinan mereka bisa bertahan. Karena ceruk massa dan logistik mereka akan disedot oleh partai ‘induknya’ sendiri,” ujar Dosen Ilmu Politik di Universitas Paramadina itu.[sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *