Partai Golkar Harus Baca, Inilah Saran Penting Pengamat Kalau Airlangga Ingin Jadi Presiden

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Tidak mudah bagi seseorang untuk menjadi calon presiden (capres) maupun calon wakil presiden (cawapres), apalagi memenangkan pertarungan pilpres itu sendiri.

Sepanjang sejarah, banyak tokoh-tokoh yang diprediksi bakal maju di pesta demokrasi lima tahunan itu, bahkan sudah memasang baliho dimana-mana, tapi pada akhirnya hanya menjadi sebuah angan-angan.

Berita Lainnya

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto adalah satu di antara banyak tokoh yang saat ini digadang-gadang bakal maju pada Pilpres 2024 mendatang.

Pertanyaannya, seberapa besar peluangnya untuk maju menjadi capres maupun cawapres di Pilpres 2024? Kalau satu di antara posisi itu sudah didapat bagaimana cara ia memenangkannya?

Pengamat Politik Veri Muhlis Arifuzzaman menilai Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto dengan modal sosial politik yang dimilikinya, mempunyai peluang besar untuk maju di Pilpres 2024 mendatang.

“Secara kapasitas Airlangga memenuhi tiga unsur penting dalam pencapresan, yakni pengalaman di Parlemen atau Anggota DPR, punya pengalaman di pemerintahan dengan menjadi menteri pemerintahan dan terakhir yang paling penting dan yang paling mahal sebagai alat negosiasi Airlangga adalah seorang Ketum Umum Partai Golkar, kata Veri Muhlis dalam Channel YouTube Indopolitika.com, yang diunggah pada Rabu, (5/5/2021).

Airlangga Layak Jadi Capres

Sebagai Ketua Umum Partai Golkar, salah satu partai besar di Indonesia, Veri Muhlis melihat Airlangga sangat layak menjadi calon presiden bukan wakil. Meski demikian, ia juga menilai hal itu tergantung dari negoisasi yang dihasilkan dengan partai koalisi.

“Elektabilitas, popularitas dan akseptabilitas, saya kira pada posisi seorang ketum itu tentu diperlukan tetapi juga tidak menjadi yang utama. Karena mungkin saja dalam negosiasi Airlangga itu menjadi capres atau cawapres tergantung pada situasi yang mengalir di kemudian hari. Tetapi tentu sebagai ketum partai besar, Pak Airlangga harus menempatkan dirinya sebagai calon presiden,” jelas Veri Muhlis.

Agar cita-cita Airlangga menjadi capres bahkan memenangi pertarungan Pilpres 2024 nanti tercapai, Veri Muhlis mengingatkan Partai Golkar untuk membangun koalisi dengan partai-partai yang tepat.

“Apakah bisa jadi presiden? tentu saja bisa kalau memilih mitra koalisi yang tepat. Tetapi kalau Golkar memilih mitra koalisi yang salah, maka hanya akan mengulang kekalahan-kekalahan Partai Golkar di Pilpres-Pilpres sebelumnya, ” kata Veri Muhlis.

Veri Muhlis menambahkan, yang dimaksud mengulang kekalahan-kekalahan adalah saat sebelum bergabung dengan koalisi partai yang mengusung Presiden Jokowi. Ia mencontohkan saat Pilpres 2009. Menurutnya, keputusan Partai Golkar mengusung Jusuf Kalla (JK) saat itu merupakan blunder besar yang pernah dilakukan Golkar.

“Misalnya, Pilpres 2009. Sudah tahu pak JK akan kalah dari SBY, tapi demi harga diri partai dia tetap maju, padahal itu costnya tinggi. Malah menjadi pelengkap demokrasi saja. Jadi demokrasi itu menjadi semakin berbobot karena pak JK ikut ikut pemilu di situ. Tapi dari sisi pemilihan, muara atau tujuan utama dari pemilihan kan kemenangan. Jadi buat apa ikut kalau buat kalah. Ada adagium penting di dalam dunia pemilu “lebih baik hampir kalah daripada hampir menang” karena hampir menang berarti kalah, tapi kalau hampir kalah berarti dia menang,” lanjut Veri Muhlis.

Selanjutnya, kata Veri Muhlis, yang perlu dilakukan Partai Golkar dan Airlangga agar sukses di Pemilu 2024 mendatang, harus bisa menentukan wakil yang dapat mendongkrak suara.

“Airlangga tentu harus memilih calon wakil yang memenuhi unsur-unsur penting, maksudnya dari sisi kapabilitas, elektabilitas bagus, dan juga dukungan dana kampanye itu juga tidak bisa diabaikan,” paparnya.

Kemudian, Airlangga juga diingatkan Veri Muhlis, harus mengubah gaya kampanye. Jangan mengulang apa yang pernah dilakukan oleh Aburizal Bakri. Karena pemilihan presiden berbeda dengan pemilihan Ketua Umumnya Golkar.

“Airlangga juga arus mengubah gaya kampanye di era ini. Jangan mengulang apa yang dilakukan ARB. ARB kurang hebat apa dulu, bahkan digarap oleh konsultan profesional. Dia berkunjung-berkunjung ke pasar, ke sekolah-sekolah selama bertahun-tahun. Lalu nyapres aja gak bisa. Jadi waktu jangan habis di dalam. Pak ARB itu datang kemana-mana, tapi yang mengarrange partai di daerah setempat. Sementara pemilu ini bukan untuk memilih Ketum Golkar, tapi untuk memilih presiden, jadi harus ke publik secara luas,” lanjutnya.

Veri Muhlis dalam video itu menyimpulkan bahwa Airlangga mempunyai peluang baik jadi capres atau cawapres. Bahkan dapat memenangkan pemilu. Asalkan semua syarat yang dibutuhkan untuk memenangkan pemilu dilakukan dengan benar.

“Terakhir, saya kira pak Airlangga punya kans, untuk menjadi calon presiden dan punya kans juga jadi calon wakil presiden. Bahkan, Pak Airlangga punya kans juga untuk memenangkan Pilpres 2024. Apabila tepat memilih koalisi, strategi, pasangan, dan yang paling penting tepat di hati rakyat,” pungkas Veri Muhlis. [fed]

Berita Terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *