Viral Curhat Guru PAUD: Radikal kah Anak PAUD Susun Lego, Hafalkan 25 Nabi dan Rasul?

  • Whatsapp
Ilustrasi

INDOPOLITIKA.COM- Pernyataan Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang menyebut anak-anak usia dini atau yang bersekolah di PAUD sudah terpapar paham radikalisme menjadi polemik ditengah masyarakat. Banyak masyarakat yang tidak sependapat dengan Ma’ruf. Bahkan mereka menilai pernyataan orang nomor dua di negeri sangat melukai hati para pengjar PAUD. Pantaskah anak-anak yang masih begitu polos diindikasikan terpapar radikalisme?

Salah satunya adalah pemerhati kebijakan publik Kabupaten Malang, Jawa Timur, Nusaibah Al Khanza. Ia merasa aneh atas ucapan yang dilontakan oleh Mantan ketua MUI tersebut. Kemudian ia mencurahkan isi hatinya melalui kanal Citizen Journalis. Berikut adalah isi curahan hatinya yang dikutip indopolitika.com, Minggu (1/12/2019):

Muat Lebih

Satu satu aku cinta Allah

Dua dua cinta Rasulullah

Tiga tiga cinta ayah bunda

Satu dua tiga jalan masuk surga”

Itulah salah satu yang biasa dinyanyikan di sekolah PAUD. Lalu apa yang terlintas dalam benak kita saat mendengar istilah PAUD? Tentu saja akan bergelayut bayangan tentang sebuah sekolah yang didalamnya terdapat anak-anak usia dini yang masih suka bermain dan bernyanyi. Membaca, menulis dan berhitung saja mereka belum mahir. Bahkan tak jarang yang belum bisa sama sekali.

Kemudian, tidakkah terasa aneh jika anak-anak PAUD dikatakan terpapar radikalisme? Sedangakan yang kita pahami bahwa radikal itu adalah terkait pandangan politik yang mendasar. Bahkan banyak juga yang mengartikan radikal itu identik dengan kekerasan.

Lalu kenapa Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin menyebut masih banyak sekolah, bahkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang beri ajaran radikalisme. Hal itu ia sampaikan usai meninjau pencegahan stunting di Desa Tangkilsari, Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang, Rabu (27/11/2019).

Ma’ruf menyampaikan, dari hasil penelusuran yang dilakukan selama ini, banyak sekolah yang masih menggunakan bahan ajar yang di dalamnya mengandung unsur radikalisme. Bahan ajar itu lolos hingga ke tangan anak-anak, bahkan tak jarang dijadikan sebagai bahan atau soal ujian.

“Bahkan sejak masih PAUD itu ada ajaran radikalisme, itu yang menjadi perhatian kita bersama,” katanya pada wartawan.

Namun tak jelas pengajaran yang seperti apa yang beliau katakan radikal. Tak jelas alat peraga belajar seperti apa yang disebut mengajarkan radikalisme. Juga tak jelas soal ujian mana yang ditunjuk mengajarkan radikalisme.

Kalau yang dimaksud disini adalah PAUD yang berbasis pendidikan Islam. Bukankah mereka hanya mengajarkan tentang mengenal Allah, Asmaul Husna, memperkenalkan 25 Nabi dan Rasul, membaca dan menulis Alquran, menghafal doa-doa dan surat-pendek. Cuma berkisar itu saja kan.

Lalu mana pelajaran anak PAUD yang dituding terpapar radikalisme? Apakah bermain balok kayu, menyusun lego, menyanyi, menghafal warna dan sebagainya itu disebut radikal?

Sungguh disayangkan, keluar pernyataan seperti itu apalagi dari seorang ulama dan seorang wakil presiden. Dikhawatirkan jika tidak diperjelas dan dituntaskan. Akan ada reaksi saling mencurigai antar lembaga pendidikan. Juga dikhawatirkan akan muncul reaksi negatif dari para orang tua yang hendak menyekolahkan anaknya di tingkat PAUD terutama di sekolah yang berbasis Islam.

Oleh karena itu kita harus pahami bahwa konsep pendidikan dalam Islam adalah menanamkan akidah yang kuat pada anak sejak usia dini. Dengan memiliki akidah yang kokoh, diharapkan anak-anak yang merupakan cikal bakal tumbuhnya generasi muda, dapat menjadi generasi yang beriman dan berakhlakul karimah. Melandaskan setiap perbuatannya atas dasar iman. Sehingga akan terwujud generasi calon pemimpin peradaban yang amanah, jujur, bertanggung jawab dan adil.[pit]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *