Internasional

PBB Sebut Anak-Anak Rohingya Butuh Pendidikan Dasar

Anak-anak Rohingya sedang menggambar di kamp pengungsian Kutupalong di Bangladesh, 11 September 2017. (Foto: AFP/MUNIR UZ ZAMAN)

Cox's Bazar: Anak-anak dan pemuda etnis minoritas Rohingya di kamp pengungsian Bangladesh membutuhkan pendidikan dasar yang memadai. Hal tersebut disampaikan Organisasi Edukasi, Sains dan Budaya (UNESCO) yang merupakan salah satu bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Ratusan ribu Rohingya melarikan diri ke Bangladesh dari operasi militer Myanmar di Rakhine tahun lalu. 

"Kami khawatir akan hilangnya satu generasi. Anak-anak dan pemuda di sini memiliki kesempatan yang terbatas untuk mendapatkan pendidikan," ucap juru bicara UNESCO Alastair Lawson Tancred kepada awak media di Cox's Bazar, seperti dikutip dari kantor berita Anadolu Agency, Sabtu 6 Oktober 2018.

Tancred menyebut lebih dari separuh pengungsi Rohingya di Bangladesh adalah anak-anak, yang sebagian besarnya berusia di bawah 17 tahun.

Ia menambahkan agensi PBB Dana Anak-Anak (UNICEF) berencana menyediakan pendidikan bagi anak-anak Rohingya yang berusia antara 9 hingga 14 tahun di Bangladesh.

Sementara itu menurut data Agensi Pengembangan Internasional Ontario (OIDA), hampir 24 ribu Rohingya tewas dibunuh militer Myanmar sejak 25 Agustus 2017.

Baca: Rohingya Peringati Satu Tahun Operasi Militer Myanmar

Dalam laporan OIDA disebutkan lebih dari 34 ribu Rohingya dilemparkan tentara ke kobaran api, dan 114 ribu lainnya dipukuli. Laporan tersebut berjudul "Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience."

OIDA menambahkan sekitar 18 ribu wanita dan gadis Rohingya juga diperkosa prajurit serta polisi Myanmar, dan lebih dari 115 ribu rumah dibakar serta 113 ribu lainnya di Rakhine dirusak.

Menurut data Amnesty International, lebih dari 750 ribu pengungsi Rohingya, sebagian besar wanita dan anak-anak, melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh sejak Agustus 2017.

Rohingya, disebut PBB sebagai etnis paling terpersekusi di dunia, hidup di tengah kekhawatiran sejak puluhan dari mereka tewas dalam kekerasan komunal di Rakhine pada 2012.

Pemerintah Myanmar membantah melakukan pembersihan etnis terhadap Rohingya, dan berkukuh hanya menjalankan operasi untuk memburu kelompok ekstremis di Rakhine.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close