Pelaku Begal Payudara di Madiun Berhasil Ditangkap, Ini Motifnya

INDOPOLITIKA.COM – Aparat Polres Madiun, Jawa Timur, menangkap pelaku pencabulan yang melakukan aksi meremas payudara anak di bawah umur.

“Pelaku merupakan seorang pemuda 25 tahun bernama Wisnu Dwi Awandha warga Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun,” ujar Kapolres Madiun AKBP Anton Prasetyo saat menggelar pers rilis di Madiun, dilansir Antara, Jumat, 29 April.

Penangkapan terhadap tersangka dilakukan setelah polisi mendapat laporan dari sejumlah korban akan tingkah pelaku yang meresahkan.

“Sampai saat ini sudah ada enam korban yang melapor dan sebagian besar merupakan anak di bawah umur. Modusnya adalah tersangka membuntuti korbannya dan pada saat sepi pelaku mendekati korban dan pura-pura menanyakan sesuatu. Setelah itu memegang payudara korban dan melarikan diri,” kata Anton.

Aksi korban dilakukan di Jalan Raya Dungus-Kare wilayah Kecamatan Wungu dan Kecamatan Kare Kabupaten Madiun yang merupakan wilayah sepi.

“Tersangka sengaja mencari wilayah yang sepi untuk melancarkan aksinya,” kata Kapolres.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, motif pelaku melakukan hal tersebut karena memiliki masalah di keluarganya sehingga ia melampiaskan dengan perbuatan tersebut guna mendapatkan kepuasan.

Adapun aksi meresahkan tersebut sudah dilakukan tersangka sejak bulan September tahun 2021 hingga April 2022. Polisi berhasil menangkap tersangka berdasarkan keterangan para korban tentang ciri-ciri pelaku dan sepeda motor yang dikendarai pelaku.

Perkara itu merupakan bagian dari kasus yang ditangani tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Tim itu terdiri dari petugas Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPA), Unit PPA polres, organisasi sosial masyarakat, akademisi, dan sebagainya.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DPPKBPPA Kabupaten Madiun, Widiarsih Murtanengrum mengatakan bahwa tim P2TP2A telah melakukan pendampingan terhadap korban ‘begal payudara’. Upaya itu untuk mengantisipasi terjadinya permasalahan psikologis terhadap para korban.

“Setiap ada kasus kami selalu melakukan pendampingan. Tapi, sebelumnya masih assessment lebih dulu untuk mengukur pendampingan yang akan dilakukan,” ujar Widiarsih. [rif]


Ikuti berita menarik Indopolitika.com di Google News

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.