Pemerintahan

Pemerintah Yakin Bioenergi Masa Depan Energi Indonesia

"Saat ini, uji coba penggunaan B30 sedang berlangsung dan diharapkan dapat mengurangi impor BBM."

JAKARTA, INDOPOLITIKA – Hingga saat ini Indonesia masih bergantung pada bahan bakar fosil sebagai basis sumber energi. Mengatasi hal itu, sejak jauh hari pemerintah mencari alternatif lain. Hal itu tertuang dalam  Perpres No.5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Ditetapkan bahwa Rencana Pengelolaan Energi Nasional adalah mengembangkan energi mix primer pada tahun 2025, dimana sebanyak 23 persen energi nasional berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan 8,3 persen berasal dari bioenergi.

Saat ini, bioenergi yang berhasil dikembangkan Indonesia salah satunya adalah biodiesel. Inilah sumber energi baru terbarukan, demikian Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, akan berperan besar dalam kebutuhan energi Indonesia di masa depan. Pemanfaatan biodisel, akan berperan yatama dalam mengurangi  impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Saat ini, uji coba penggunaan B30 sedang berlangsung dan diharapkan dapat mengurangi impor BBM. Dengan energi ramah lingkungan ini, rantai suplai yang dari luar negeri sudah bisa kita eliminasi. Kita mampu menghasilkan kebutuhan energi kita yang berasal dari kemampuan dalam negeri”, terang Arcandra pada Workshop Pemanfaatan Minyak Sawit Untuk Green Fuel Dalam Mendukung ketahanan Energi dan Kesejahteraan Petani Sawit di Auditorium Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Selasa (16/7/2019). Arcandra menjelaskan kebutuhan solar dalam negeri sekitar 30 juta kilo liter setahun. Dengan pemanfaatan biodiesel saat ini (B20), sekitar 6 juta kilo liter FAME dapat menggantikan solar. Hal ini diyakini dapat menghemat hingga USD 3 miliar.

Ia menegaskan perlu adanya usaha terus menerus untuk mengurangi impor BBM dalam negeri. Seiring pertumbuhan ekonomi, kebutuhan akan BBM terus meningkat dan jika tidak diimbangi dengan ketersediaan di dalam negeri maka kebutuhan impor akan membesar.

“Hari demi hari impor kita akan membesar kalau kita tidak ada usaha untuk menguranginya. Sekitar 36 juta dollar per hari kita impor, setahun sekitar 10 atau 11 miliar dollar kita impor. Kalau dengan adanya pertumbuhan, maka 11 miliar dollar ini akan terus meningkat dari tahun ke tahun”, terang Arcandra,

Di sisi lain, di hulu migas upaya terus dilakukan Pemerintah dalam memperbaiki iklim sektor ESDM. Arcandra menerangkan bahwa sebelumnya di tahun 2015 dan 2016 lelang blok migas yang masih menggunakan skema cost recovery tidak ada yang laku. Namun di 2017, skema cost recovery diubah menjadi gross split dan 5 blok eksplorasi langsung diminati oleh investor yang disusul kemudian di 2018 terdapat 9 blok migas yang diminati.

Hingga Juni 2019, imbuh Arcandra, sebanyak 42 kontrak kerja sama migas telah menggunakan skema gross split. “Lima di antara kontrak tersebut merupakan amandemen dari cost recovery menjadi gross split dan ini merupakan perbaikan dari sisi hulu,” tandasnya.

Potensi B100

Optimisme biodiesel sebagai sumber energi masa depan juga diungkap Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Produknya, selain B30 sebagaimana disebutkan Wamen ESDM Arcandra, juga ada B100.

“B100 adalah energi masa depan kita. Ini adalah peluang besar karena produksi CPO kita sebanyak 41,6 juta ton, meningkat 42 persen dibandingkan produksi 2014 yang mencapai 29,28 juta ton. Bisa dibayangkan berapa triliun yang bisa dihemat. Ke depannya kita sudah tidak akan tergantung lagi dengan BBM impor,” jelas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari bahan alami terbarukan seperti minyak nabati dan hewani. Sifat fisik biodiesel sama dengan minyak solar dan dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti untuk kendaraan bermesin diesel.

Selama ini, biodiesel masih dicampur dengan bahan bakar minyak bumi dengan perbandingsn tertentu. Tapi dengan teknologi pengembangan B100, biodiesel mengandung 100 persen bahan alami, tanpa dicampur dengan BBM.

Produk B100 merupakan salah satu inovasi yang dihasilkan oleh Kementan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Para peneliti Balitbangtan mengembangkan Reaktor biodiesel multifungsi generasi ke-7. Mesin ini dapat mengolah 1.600 liter bahan baku setiap harinya.

“Impian Indonesia ciptakan biodiesel B100 dari CPO berhasil terwujud. Bahan bakar yang berasal dari 100 persen CPO dengan rendemennya 87 persen ini masih terus dikembangkan. Semua tidak ada campuran,” jelas Amran.

Sebelum berhasil mengembangkan B100, Indonesia telah berhasil mengembangkan B20 menuju B30. Selama kurun waktu 2014-2018, perkembangan B20 di Indonesia pun cukup pesat.

Pada 2018 produksi biodiesel B20 mencapai 6,01 juta kiloliter meningkat 82,12 persen dibanding 2014 sebesar 3,30 juta kiloliter. Meskipun demikian Amran menyebutkan bahwa Indonesia masih mengimpor solar 10,89 juta kiloliter.

Pengembangan biodiesel B100 diharapkan Amran memiliki banyak dampak positif. Salah satunya, B100 telah teruji lebih efisien. “Perbandingannya saja untuk satu liter B100 bisa menempuh perjalanan hingga 13,4 kilometer sementara satu liter solar hanya mampu sembilan kilometer,” terang Amran.

Dampak positif lainnya, B100 merupakan energi ramah lingkungan. Sebagai contoh, karbonmonoksida (CO) biodiesel B100 lebih rendah 48% dibanding solar.

Pengembangan B100 juga diharapkan berpengaruh positif terhadap kesejahteraan petani sawit. Sawit Indonesia hingga kini masih menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar. Ekspor CPO diperkirakan mencapai 34 juta ton. Tapi jika hanya mengekspor dalam bentuk mentah, harga jualnya lebih rendah bila dibandingkan bentuk produk turunan.

“Dalam situasi ini, Diharapkan dengan langkah hilirisasi melalui peningkatan daya serap biodiesel ini dapat menjadi fondasi kita untuk menciptakan hilirisasi sawit dengan produk akhir yang lain,” ujarnya. .

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Close
Close