Oleh: Hasanudin Hamami

(Ketua Umum Jaros RI & Manajer Program Minat-Bakat Siswa Sekolah Arraihan-Airinist)

INDOPOLITIKA.COM – Fenomena pemilihan presiden di Indonesia selalu menjadi dinamo besar yang dapat menggerakkan ragam perhatian dan partisipasi masyarakat untuk terlibat aktif dalam upaya memenangkan calon yang didukungnya.

Sebuah ekspresi demokrasi yang positif yang potensial terpilihnya seorang presiden yang bagus. Keterpilihan seorang presiden akan ditentukan oleh kualitas ekosistem lingkungannya yang terkait dengan sistem nilai, wawasan politik dan kepentingan pragmatis politik.

Ketika sistem nilai dan wawasan politik baik, maka kepentingan pragmatis politik akan lebih terkontrol sehingga tidak menyimpang yang dapat berdampak buruk pada nasib kehidupan segenap bangsa. Bahkan kepentingan pragmatis politik dapat dijadikan instrument penting untuk merealisasikan sebuah tatanan kehidupan masyakat yang sejahtera dan bermoral.

Peran Kiai

Di tengah masyarakat indonesia yang sebagian besar masih berbudaya paternalistik (ikut tokoh panutan), maka peran sang tokoh  akan menjadi lokomotif, yang pilihan dan preferensinya atas seorang calon presiden akan diikuti oleh para pengikutnya.

Terlebih seorang kiyai, sosoknya dipandang lebih memiliki public trust di tengah masyarakat. Selalu dijadikan rujukan oleh sebagian besar masyarakat tak terkecuali oleh para elit bangsa termasuk sang calon presiden yang selalu berusaha keras untuk dapat kesempatan bertemu dengan sang kiyai karena pertemuanya dapat dieksploitasi menjadi media promosi dan kampanye dirinya yang berpeluang memikat hati masyarakat untuk memilihnya.

Peran penting sang kiai harus memberi manfaat pada peningkatan kualitas moral dan wawasan politik masyarakat-umat bagaimana sebaiknya berekpresi dan berpartsipasi dalam even proses pemilu pilpres sehingga mempengaruhi proses kampanye yang menjauhkan umat dari sentiment-sentimen manipulatif berbasis hoak dan kebencian.

Lebih memilih mengutamakan ekspresi politik yang berbasis moralitas yang mengutamakan alasan pemilihan presiden karena kejujuran dalam melihat track record sang calon yang potensial membawa manfaat kongkrit bagi perbaikan kehidupan bangsa dan negara.

Mengabaikan preferensi pilihan emosional.  Kemudian mengedukasi masyarakat untuk memilih calon presiden dengan berbasis sikap terbuka dan tulus karena menginginkan kebaikan bagi bangsa dan negara. Tidak melakukan pilihan atas calon presiden hanya  karena kesamaan identitas meski tak memiliki reputasi dan track record yang baik.

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com