Pemilu Kamboja Berlangsung Tanpa Oposisi Utama

  • Whatsapp
PM Hun Sen pernah berkata ingin melanjutkan memimoin Kamboja setidaknya satu dekade lagi. (Foto: AFP)

Phnom Penh: Warga Kamboja menggunakan hak suara mereka dalam sebuah pemilihan umum yang tidak diikuti satu-satunya penantang serius Perdana Menteri Hun Sen yang sudah berkuasa sejak 1985.

Sejumlah pihak menyebut pemilu pada Minggu 29 Juli 2018 ini sebagai 'lelucon' setelah Partai Penyelamatan Nasional Kamboja, yang kalah tipis dari petahana dalam pemilihan sebelumnya, dibubarkan.

Baca Juga:

Amerika Serikat dan Uni Eropa serta sejumlah pihak lainnya mempertanyakan kredibilitas dari pemilu Kamboja kali ini.

Namun, seperti dikutip dari BBC, Partai Rakyat Kamboja milik PM Hun Sen mengatakan ada 19 partai ikut serta dalam pemilu kali ini.

Jumat kemarin, pemerintahan PM Hun Sen memerintahkan jasa penyedia internet di Kamboja untuk memblokade sejumlah situs berita independen, termasuk Radio Free Asia, Voice of America dan Voice of Democracy.

Sebuah konten versi Jerman di situs Pinterest juga ditutup pemerintah, karena secara spesifik merujuk pada Partai Penyelamatan Nasional Kamboja.

Sebagai bagian dari misi perdamaian dunia PBB, Kamboja pertama kali menggelar pemilu multi-partai pada 1993 setelah dilanda peperangan dan pertumpahan darah selama berdekade-dekade. 

Sekitar dua juta orang di Kamboja diestimasi tewas antara 1975 dan 1979 saat negara tersebut dipimpin komunis radikal Khmer Merah.

Hun Sen, mantan prajurit Khmer Merah yang kemudian menentang organisasi tersebut, berkuasa di Kamboja dalam periode pertumbuhan ekonomi.

Dia telah lama dituduh menggunakan kekuasaannya untuk membungkam kritik. Namun dia juga telah mengizinkan sejumlah partai politik oposisi untuk beraktivitas di Kamboja.

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *