Pemimpin ISIS Baru Abu Ibrahim Quraishi Dinilai Akan Sulit Galang Kekuatan Kembali

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Pengangkatan pengganti pimpinan islamic state of Iraq and Suriah (ISIS) Abu bakar Al-Baghdadi merupakan upaya konsolidasi ulang jihad setelah basis kelompok ISIS di Raqqah, Suriah yang belakangan sedang porak poranda. Demikian disampaikan oleh Pemerhati Gerakan Islam dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ade Faisal Alami.

Diketahui sebelumnya, ISIS mengkonfirmasi kematian pemimpin mereka, Abu Bakar al-Baghdadi. Kemudian ISIS menunjuk penggantinya yakni Abu Ibrahim al-Hashimi al-Quraishi.

Baca Juga:

Ade mengatakan pada masa Al Baghdadi, ada area percontohan kekuasaan khilafah sehingga menarik minat Mujahidin dari luar negeri. Namun, di era kepemimpinan Abu Ibrahim hal itu akan sulit dilakukan.

“Kini sulit bagi ISIS untuk menghimpun kekuatan jihad internasional dalam sebuah area sebagaimana era Al-Baghdadi,” katanya saat dikonfirmasi Indopolitika, Jumat (1/11/2019).

Ade kemudian menjelaskan ada tiga poin alasan kenapa hal itu terjadi. “Pertama, karena mereka tidak memiliki wilayah kekuasaan sebagai trial area kekhalifahan. Kedua, sebagian besar jihadis ISIS di Suriah, tewas, tertangkap, dan yang selamat menjadi deportan atau kembali ke negara asal.

Ketiga, mereka yang kembali ke negara asalnya sulit menghimpun kekuatan karena ruang gerak mereka terbatas lantaran ideologi mereka mengancam negara,” lanjutnya.

Ade juga berujar Warga Negara Indonesia (WNI) yang pernah bergabung dengan ISIS di Suriah ada yang kecewa sehingga kembali lagi ke Indonesia sebagai returnis.

“Adapun mereka yang tertangkap oleh pemerintah Turki atau Suriah, menjadi deportan karena dideportasi ke Indonesia,”

Ade juga mendukung penuh langkah Presiden Jokowi di periode kedua ini untuk serius memberantas paham radikalisme dan terorisme yang belakangan sering didengungkan.

Ia meminta pemerintah harus merangkul para WNI itu agar tidak terpapar kembali oleh paham radikal.
“Pemerintah harus serius merangkul para returnis agar tidak kembali terpapar ideologi radikal,”

Ade mengakui paham radikalisme di Indonesia dalam hal ini jaringan mujahidin terbelah menjadi dua kubu yakni, yang mendukung ISIS berhimpun dalam Jamaah Ansharu Daulah (JAD) dan yang mendukung Jabhah Nusrah yang berafiliasi dengan Al Qaeda di antaranya adalah Jemaah Islamiyyah (JI).

“Baik JI atau JAD menjadi tantangan bagi pemerintah. Kendati kekuatan ISIS porak poranda, tidak menutup kemungkinan mereka melakukan gerakan sporadis sebagai Lone wolf sebagaimana peristiwa penusukan pak Wiranto,” pungkasnya.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi diyakini tewas dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) di Suriah pada Sabtu (26/10). Namun, kebenarannya baru bisa dipastikan setelah hasil tes DNA dan biometriknya keluar. [rif]

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *