Pencalonan Idham Azis Dianggap Tidak Lazim

  • Whatsapp
Komjen Idham Azis

INDOPOLITIKA.COM – Suksesi calon Kapolri definitif pengganti Tito Karnavian memanas. Nama Komjen Idham Azis sudah diajukan presiden ke DPR sebagai calon tubggal. Tetapi, Indonesia Police Watch (IPW) mencium aroma tak sedap dibalik pengajuan calon tunggal oleh presiden ke DPR. Ada proses yang tak lazim dalam penentuan Idham Azis.

Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengungkapkan, dalam proses pencalonan Kapolri selama ini, ada dua rekomendasi yang diterima presiden. Yaini rekomendasi dari Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi (Wanjakti) Polri dan rekomendasi dari Kompolnas. Presiden lalu memilih satu dari dua rekomendasi itu untuk diserahkan ke DPR. Lalu, komisi III DPR akan melakukan uji kepatutan dan kelayakan.

Baca Juga:

“Tapi dalam penetapan idam Azis sbg calon kapolri, prosedur itu tidak dilalui sebagaimana mestinya,” ujarnya melalui keteranganya, Kamis (24/10).

Malam hari setelah Ari Dono ditetapkan sebagai Plt Kapolri, tiga komisioner Kompolnas mendatanginya. Salah satunya adalah Pungky. Menurut Neta, ketiga anggota Kompolnas yang mendatangi Plt Kapolri itu mendesak agar dilakukan rapat sesegera mungkin. Rapat itu agendanya tunggal yakni untuk membahas dan menentukan nama nama calon kapolri. Sebuah rapat gabungan yang dia sebut tidak lazim.

“Akhirnya terjadilah rapat itu. Rapatnya hanya berlima. Tiga orang dari Kompolnas dan dua orang dari Polri,” ujarnya.

Hasil rapat itu memutuskan lima orang yang akan diajukan sebagai calon Kapolri. Yakni Komjen Arif, Komjen Agung Budi, Irjen Gatot, Irjen Martuani, dan Komjen Idam Azis. Nah, nama Idham Azis sempat diperdebatkan. Sebab, masa dinasnya sebagai anggota polisi kurang dari 2 tahun. Tapi akhirnya nama itu masuk dengan catatan.

Sementara nama Irjen Agus Kapolda Sumut yang sempat dibahas sebagai kader potensial, dicoret. Dicoretnya nama Kapolda Sumut itu karena dianggap terlalu muda. Agus merupakan lulusan akademi kepolisian (Akpol) tahun 1989. Namanya lalu digantikan oleh Komjen Martuani, Asop Kapolri.

“Menjelang dinihari surat yang berisi nama-nama calon Kapolri itu dikirim ke istana.  Paginya istana sudah mengirimkan satu nama ke DPR. Kerja cepat. Pola pengajuan nama calon Kapolri seperti ini diluar kelaziman. Dan tak biasanya kompolnas mendatangi pimpinan polri untuk sama-sama membahas nama calon calon Kapolri,” katanya.

Dia menjelaskan, biasanya Kompolnas rapat sendiri dan dihadiri semua komisioner Kompolnas. Mereka  mendata dan membahas nama nama calon Kapolri. Lantas, nama itu diserahkan ke presiden. Di sisi lain, Polri juga melakukan rapat Wanjak yang dipimpin Wakapolri dengan peserta Irswasum, Kadiv Propam, Deputi SDM.

“Pertanyaan IPW, kenapa proses pencalonan Idam Azis terkesan terburu buru dan tidak lazim. Ada apa. Apakah ketidakproseduralan ini dan menabrak SOP ini harus ditolerir. Anggota Polri yang melanggar SOP saja ditindak, kok proses pencalonan Kapolri dibiarkan menabrak SOP,” katanya.[ab]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *