Internasional

Penculikan Masih Rentan Terjadi di Sabah

Kapal patroli Malaysia di perairan Sabah. (Foto: AFP)

Sabah: Rasa tidak nyaman mencekam beberapa kawasan di negara bagian Sabah, Malaysia timur, di Pulau Kalimantan, menyusul insiden penculikan di perairan kota pesisir Semporna pekan lalu.

Kelompok bertopeng yang dipersenjatai senapan M16 — diduga terkait dengan kelompok penculik peminta uang tebusan Abu Sayyaf Group (ASG) yang bermarkas di Pulau Mindanao, Filipina selatan — menyekap dua nelayan Indonesia dari sebuah kapal penangkap ikan.

Baca: Dua Nelayan Indonesia Diculik di Perairan Sabah

Itu adalah insiden pertama yang pernah terjadi di Sabah dalam hampir dua tahun terakhir.

Sekarang muncul kekhawatiran bahwa para penculik dapat kembali beraksi, dalam upaya mengumpulkan lebih banyak dana untuk melancarkan aksi teror di Filipina selatan. Peringatan ini berasal dari seorang pejabat intelijen dan seorang mantan militan.

Kombinasi antara seruan dari kelompok militan Islamic State (ISIS) untuk berjuang di Mindanao dan operasi militer Filipina melawan militan mendorong ASG mencari dana melalui penculikan. Faktor kemiskinan warga di Filipina selatan membuat perekrutan oleh militan dan geng penculik berjalan begitu mudah.

"Kejadian ini (penculikan) adalah sesuatu yang sulit dihentikan. Namun, (situasinya) terkendali," kata Ayob Khan Mydin Pitchay, kepala divisi kontra-terorisme Cabang Khusus, seperti dilansir dari kantor berita Channel NewsAsia, Sabtu 22 September 2018.

Cabang Khusus merupakan badan intelijen dari Kepolisian Kerajaan Malaysia dan lembaga utama dalam operasi kontra-terorisme.

"Penculikan itu masih terjadi karena kelompok-kelompok ini (ASG) ditekan untuk mencari dana demi melanjutkan kegiatan (militan) mereka, karena pihak berwenang Filipina melakukan operasi pembersihan terhadap militan," tambah Ayob.

Pengaruh ISIS

Menurut komandan Satuan Keamanan Sabah Timur (Esscom), Hazani Ghazali, peristiwa di Filipina memiliki dampak signifikan terhadap Sabah.

"ASG dan kelompok-kelompok Pro-ISIS (di Filipina selatan) perlu uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, mobilisasi dari satu tempat ke tempat lain, pengadaan peralatan komunikasi, dan senjata," tutur Abdullah Sandakan, mantan anggota kelompok militan Jemaah Islamiyah (JI) yang terkait Abu Sayyaf, kepada Channel NewsAsia.

ASG telah mendeklarasikan sumpah setia kepada ISIS pada 2014.

Militan pro-ISIS, termasuk faksi ASG, menguasai Marawi pada Mei 2017 dan mengepung kota tersebut selama lima bulan. Lebih dari 1.000 orang tewas dalam pertempuran tersebut.

Penguasan Marawi menjadi peristiwa paling serius bagi ISIS dalam mendapatkan pijakan di Asia Tenggara.

Sebelum pengepungan Marawi, Sabah dan Laut Sulu di sekitarnya mengalami lonjakan ihwal penculikan. Angkanya melonjak menjadi 10 insiden pada 2016 dibandingkan satu insiden satu tahun sebelumnya.

Peristiwa pekan lalu di Sabah menjadi yang pertama dalam hampir dua tahun setelah patroli maritim gabungan pada 2017 oleh Malaysia, Indonesia, dan Filipina di Laut Sulu membantu mengurangi insiden pembajakan dan penculikan.

Sejak 2013, 41 militan ditangkap karena berusaha masuk ke Mindanao melalui Sabah. Dari jumlah itu, 27 adalah orang asing yang kebanyakan warga Indonesia.

Sabah adalah titik pijak penting bagi orang Malaysia dan pejuang asing yang ingin bertempur di Mindanao, mengingat kedekatannya dengan Filipina selatan.

Baca: Warga Filipina Diduga Terlibat dalam Penculikan Dua WNI

Bekerja sebagai Petugas Keamanan

Secara bersamaan, Sabah juga merupakan pintu gerbang bagi anggota ASG dan pejuang asing lainnya untuk melarikan diri dari operasi militer Filipina. Dari Sabah, para militan bisa melakukan perjalanan ke Semenanjung Malaysia.

Sejak 2013, total 27 anggota Abu Sayyaf telah ditangkap Kepolisian Malaysia. "Mereka (ASG) datang ke Malaysia untuk bersembunyi. Biasanya mereka diburu di Filipina," tutur Ayob.

Pernah tinggal di Kuala Lumpur, beberapa anggota ASG dilaporkan bekerja sebagai penjaga keamanan, buruh, dan anggota korps sipil paramiliter yang dikenal sebagai RELA.

"Sebanyak tujuh anggota ASG ditangkap ketika mereka bekerja sebagai penjaga keamanan," kata Ayob.

Ia menambahkan ASG juga mencoba merekrut anggota baru di Malaysia untuk bergabung dengan mereka di Filipina selatan.

Tahun lalu, Kepolisian Malaysia berhasil menggagalkan rencana ASG untuk menyerang upacara penutupan SEA Games di Kuala Lumpur.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close