Internasional

Pendekatan Jalan Tengah Perlu Merangkul Semua Orang

Middle Path atau Jalan Tengah menjadi inti pembahasan dalam WPF ke-7 di Hotel Sultan jakarta, 14-16 Agustus 2018. (Foto: Willy Haryono)

Jakarta: Middle Path atau jalan tengah dipandang sebagai salah satu pendekatan terbaik dalam menyelesaikan konflik. Pendekatan ini dinilai mampu meredam inti dari suatu konflik karena sifatnya yang objektif.

Konsep jalan tengah ini menjadi inti pembahasan dalam diskusi panel di acara World Peace Forum (WPF) ke-7 di Jakarta. Tema WPF kali ini adalah The Middle Path for the World Civilizations.

Rabbi David Shlomo Rosen, Direktur Komite Yahudi Amerika dari Departemen Urusan Antaragama, memaparkan pandangannya mengenai konsep tersebut.

"Apa yang harus kita semua lakukan adalah mencoba memahami, apa naratif dari diri tiap-tiap orang. Kita harus mampu memahami setiap orang," ujar Rosen di Hotel Sultan Jakarta, Rabu 15 Agustus 2018.

Untuk memahami narasi ini, Rosen menyebut pendekatan jalan tengah juga harus dibarengi dengan mentalitas win-win solution atau tidak merugikan salah satu pihak.

Ia mengingatkan untuk selalu menghindari stigmatisasi dan generalisasi dalam menerapkan konsep Middle Path ini.

"Saya meyakini kita perlu melihat bahwa ada 'malaikat,' ada kebaikan di diri setiap orang," kata Rosen.

Baca: Tiga Poin Utama dalam Menerapkan Pendekatan Jalan Tengah

Simone Sinn, seorang profesor bidang teologi asal Swiss, mengutarakan hal senada. Menurutnya, konsep jalan tengah baru bisa dijalankan jika memiliki cukup rasa cinta terhadap seluruh ciptaan Tuhan.

"Jalan tengah ini tidak mudah. Harus ada komitmen tinggi. Kita semua harus berjalan bersama-sama," ujar Sinn.

"Apakah kita sudah cukup berbuat baik untuk melindungi kehormatan manusia? Melindungi pengungsi? Petani dan lahannya? Pekerja migran? Kualitas pendidikan bagi anak-anak kita? Untuk mengambil pendekatan jalan tengah, itu artinya kita harus bisa menjawab secara kritis semua pertanyaan tersebut," lanjut dia.

Menurut Uung Sendana, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), Middle Path sejalan dengan konsep Yin Yang.

Konsep utama Yin Yang, kata Uung, adalah keseimbangan. Simbol Yin dan Yang yang memiliki warna hitam dan putih itu disebutnya bukan saling bertentangan, namun melengkapi satu sama lain.

"Yin dan Yang adalah sikap untuk berdiri di tengah, bukan bersikap ekstrem. Sikap ekstrem juga akan memicu reaksi ekstrem lainnya," sebut Uung.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close