Pendukung Airlangga Diduga Bikin Disharmonisasi Bamsoet dengan Jokowi

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Jelang musyawarah nasional (Munas) yang akan digelar pada Desember mendatang konstelasi politik di internal Partai Golkar kembai memenas. Bambang Soesatyo (Bamsoet) yang semula colling down kini mulai menunjukan keseriusannya krmbali untuk maju Calon Ketua Umum Partai Golkar.

Ada isu yang menyeruak, terjadi perseteruan antara Joko Widodo dengan Bambang Soesatyo. Hal inilah, yang membuat kembali ramainya pemberitaan ditubuh Partai Golkar.

Baca Juga:

Fungsionaris DPP Partai Golkar Syamsul Rizal menyebut pendukung Caketum Airlangga Hartarto sengaja membuat peta konflik antara Bambang Soesatyo dengan Presiden Joko Widodo.

“Sampai saat ini, hubungan Bamsoet dan Pak Jokowi adem adem saja, demikian juga dalam hubungan antar lembaga sebagai ketua MPR dan Presiden tidak ada masalah apa apa. Pendukung Caketum AH saja yang panik makanya membuat peta konflik dan opini yg aneh-aneh,” kata Syamsul Rizal melalui keterangannya, Sabtu (9/11/2019).

Syamsul mengatakan, saat ini ada Gerakan Politik (Gerpol) yang dilakukan oleh oknum elit-elit Golkar dengan menggunakan orang terdekat Presiden Joko Widodo untuk berupaya membendung keinginan Bamsoet maju sebagai caketum PG dengan membuat segala fitnah dan opini negatif.

“Salah satu metodologi Gerpol mereka adalah menarik kekuasaan untuk mencampuri persolan internal partai Golkar, membuat disharmonisasi antara Pak Jokowi dan Bamsoet dengan membuat rangkaian fitnahan dengan melibatkan nama – nama petinggi di negara ini yang sebenaranya tidak ada hubungan apa apa dengan Bamsoet selain hubungan manusia dengan manusia biasa yang saling menjaga batasan batasan persahabatan dalam kerangka kebangsaan,” ujar Syamsul dengan tertawa.

Menurut Syamsul, secara morolatis politik, Bamsoet teruji menjadi garda pemerintahan Presiden Jokowi. Ia menjelaskan, pertama saat Bamsoet sebagai Ketua DPR, kedua disaat Bamsoet sebagai Ketua MPR.

“Sinergitas Bamsoet dan Pak Jokowi sebagai pimpinan Lembaga Tinggi Negara keduanya sampai saat ini sangat harmonis. Jadi sangatlah keliru jika hanya demi mengejar ketua umum PG, Bamsoet dipetakonflik oleh pendukung Caketum PG Airlangga Hartarto yang mengatakan bahwa ‘Ambisi Bamsoet Rusak Relasi Golkar dengan Jokowi’,” tegas Syamsul.

“Bambang Soesatyo tidak ambisi menjadi ketum PG melainkan ikut berkontestasi sebagai kader untuk memajukan dan memperbaiki kembali partai golkar yang gagal dipimpin oleh Airlangga Hartarto,” tambah Syamsul.

Rizal menambahkan, jka memang Airlangga Hartarto merasa sudah menang diatas kertas dengan persentasi 93 % konon informasinya, kenapa harus takut dengan Bambang Soesatyo yang juga maju sebagai caketum dengan upaya mau mencekal dengan segala cara ternasuk membuat peta konflik antara dua pucuk lembaga negara yakni Presiden dan Ketua MPR.

“Saya mau tegaskan bahwa sampai saat ini Bamsoet berpikir bagaimana PG ini kembali besar dan terus memberikan kontribusi kepada rakyat, negara dan mengawal demokrasi Indonesia dengan baik,” ujarnya.

Syamsul berpendapat, dalam kontestasi calon ketua umum Partai Golkar, Bamsoet memiliki hak sebagai kader untuk ikut serta menentukan nasib partai Golkar kedepan lebih baik.

“Karena kita tau bahwa Kepemimpinan Airlangga gagal membawa Partai Golkar dalam Piileg maupun Pilpres 2019. Dalam Pilpres contohnya mayoritas kantong – kantong Golkar capres Nomor 1 yakni Pak Jokowi kala, artinya bahwa Airlangga gagal memimpin Partai Golkar dan gagal memenangkan Capres No. 1 saat itu dikantong-kantong Golkar. Kemenangan Jokowi jadi Presiden adalah hasil kerja Team dan relawan secara kolektif,” ucapnya.

Lebih lanjut, Syamsul menegaskan Bamsoet sebagai Ketua DPR telah berhasil mengawal Pemerintahan Jokowi periode pertama, pada periode kedua Joko Widodo, Bamsoet juga berhasil sebagai ketua MPR mengawal  pelantikan presiden dan menjaga sampai 5 tahun pemerintahan Jokowi.

Dia menambahkan, Airlangga sudah diberi tanggung jawab sebagai Menperin tetapi sebahagian pengamat seperti Faisal Basri, bahwa Meneperin AH saat itu gagal.

“Sekarang AH diberikan amanah lagi oleh Presiden Jokowi sebagai Menteri Perekonomian, kita belum tau apakah Menko Perekonomian AH mampuh atau tidak meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepan, apalagi Indonesia akan diperhadapkan dengan resesi ekonomi global,” pungkasnya. [ab]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *